BAB TAYAMMUM
Pengertian
Tayammum menurut bahasa adalah bertujuan. Sedangkan dalam istilah syara’ adalah mengusapkan debu yang suci mensucikan pada wajah dan kedua tangan sebagai ganti dari wudlu, mandi atau pembasuhan anggota badan dengan syarat-syarat tertentu.
Hukum dan Dalil
Hukum melakukan tayammum di bagi menjadi 3, yaitu :
1. Wajib, jika takut meninggal dunia atau rusaknya anggota badan jika menggunakan air. Tayammum juga wajib apabila tidak ditemukan air.
2. Mubah, jika mampu bersuci menggunakan air dengan membelinya, namun air tersebut dijual dengan harga melebihi standar. Tayammum juga dihukumi mubah jika pada awal waktu shalat tidak ditemukan air, namun ada dugaan atau yakin bahwa pada akhir waktu shalat akan ditemukan air.
3. Makruh, yaitu mengulangi tayammum, padahal tayammum pertama belum batal.
4. Haram meskipun tetap sah dilakukan, yaitu bertayammum dengan menggunakan debu hasil meng-ghashab.
Sebelum ada konsensus (ijma') ulama’, dalil yang menjadi dasar disyari'atkannya tayammum ialah firman Allah :
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً
فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ .(المائدة : 6)
“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air (WC) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu
dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu,
tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur’’.
(Q.S. Al-Mâidah : 6)
Dan juga sabda Nabi Muhammad :
جُعِلَتْ لَنَا اْلأَرْضُ كُلَُهَا مَسْجِدًا وَتُرْبَتُهَا طَهُوْرًا .(رواه مسلم)
"Semua bumi telah dijadikan bagi kita sebagai masjid, dan debunya
sebagai alat bersuci". (HR. Muslim)
Faktor Penyebab Tayammum
Seseorang dapat melakukan tayammum jika ia tidak bisa menggunakan air, baik dikarenakan tidak menemukan air (baca; faqd al-hissy) atau tidak dapat menggunakannya, meskipun menemukan air (baca; faqd asy-syar'i) .
Secara terperinci, hal-hal yang menyebabkan tayammum adalah sebagai berikut :
1. Tidak menemukan air.
2. Khawatir terhadap jiwa, harta atau harga diri jika menggunakan air.
3. Membutuhkan air, meskipun hanya untuk minum hewan muhtaram (hewan yang haram dibunuh).
4. Sakit, sehingga khawatir akan bertambah parah atau bertambah lama masa penyembuhannya.
5. Menggunakan perban atau sejenisnya. Bagi seseorang yang menggunakan perban pada anggota wudlu atau anggota mandinya, maka harus melakukan tayammum sebagai ganti anggota badan yang tidak terbasuh dalam wudlu atau mandi.
6. Luka pada anggota wudlu atau mandi, sehingga wajib bertayammum sebagai ganti dari anggota yang tidak terbasuh.
Syarat Sah Tayammum
Tayammum hanyalah sebagai pengganti dari wudlu yang hanya dapat dilakukan dalam keadaan dlarurat, sehingga di dalamnya terdapat beberapa syarat yang tidak ada dalam wudlu. Syarat-syarat tersebut ialah:
1. Menggunakan debu yang suci dan mensucikan. Hal ini sesuai dengan penafsiran Imam Syafi'i pada redaksi ayat "صَعِيْدًا ", yang ditafsiri Beliau sebagai debu dan redaksi ayat "طَيِّبًا ", yang ditafsiri sebagai benda yang suci dan mensucikan. Tayammum tidak dapat dilakukan dengan debu mutanajjis atau musta'mal. Tidak sah menggunakan debu yang telah tercampur tepung atau benda lainnya, kecuali jika campuran debu lebih banyak, hal ini sesuai dengan pendapat al-Qâdlî Husain.
2. Sengaja mengusapkan debu. Jika debu mengenai wajah karena terpaan angin, maka tidak dianggap sebagai tayammum.
3. Mengusapkan debu pada wajah dan kedua tangan dengan dua kali usapan, satu untuk wajah dan yang lain untuk kedua tangan.
4. Telah menghilangkan najis yang mengenai anggota badan.
5. Tayammum dilakukan setelah waktu shalat masuk.
6. Tayammum dilakukan untuk satu fardlu. Jika tayammum sudah pernah digunakan untuk melakukan sebuah ibadah fardlu, maka harus mengulangi tayammum untuk ibadah fardlu selanjutnya.
7. Perjalanan yang dilakukan bukan untuk tujuan maksiat. Syarat ini hanya berlaku bagi seorang musâfir.
8. Tidak dapat menggunakan air atau tidak menemukannya setelah berusaha mencari air. Allah berfirman:
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ .(المائدة : 6)
“Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan
tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu". (QS. al-Mâidah : 6)
Penggalan dari teks ayat di atas mengindikasikan bahwa tayammum hanya dapat dilakukan manakala tidak ditemukan air. Sedangkan seseorang bisa dianggap tidak menemukan air, jika ia sudah berusaha mencarinya. Oleh karena itu, berusaha mencari air termasuk dari salah satu syarat sah tayammum, sesuai dengan sebuah kaidah fiqh:
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
"Sesuatu yang menjadi penyempurna kewajiban juga dihukumi wajib."
Terdapat 3 istilah dalam kewajiban mencari air :
a. Hadd al-ghauts (jarak meminta tolong). Yaitu batas jarak sekira jika seseorang meminta tolong pada teman-teman di sekitarnya, maka mereka masih dapat mendengarkannya, meskipun mereka tengah melakukan kesibukan. Atau dalam pengertian lain ialah jarak tempuh anak panah yang dilepaskan. Batas jarak ini adalah + 300 dzirâ’, atau + 150 m. Pada jarak ini, seseorang diwajibkan untuk mencari air di sekitarnya, meskipun keberadaan air tersebut masih diragukan, terkecuali jika ia meyakini bahwa dalam batas jarak ini tidak ada air. Namun pencarian air pada jarak ini hanya wajib dilakukan apabila keamanan jiwa, anggota badan, kehormatan, serta harta dapat terjamin.
b. Hadd al-qurbi (jarak dekat), yaitu kurang lebih berjarak 9.000 dzirâ’ atau + 4,5 km. Pencarian air dalam jarak ini hanya wajib dilakukan jika meyakini keberadaan air. Jika masih ragu-ragu, maka tidak wajib.
c. Hadd al-bu’di (jarak jauh), yaitu batas jarak yang melebihi hadd al-qurbi. Dalam batas jarak ini tidak ada kewajiban mencari air, meskipun mempunyai keyakinan akan keberadaan air.
Fardlu Tayammum
Fardlu tayammum ada 3, yaitu:
1. Niat, dilakukan ketika kedua tangan mengambil debu usapan dan ketika mengusapkan debu pada wajah. Namun menurut pendapat yang kuat (mu’tamad) dicukupkan hanya melakukan niat ketika mengusapkan debu pada wajah .
Diantara niat tayammum adalah :
نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ لِلَّهِ تَعَالىَ
“Saya niat tayammum agar diperbolehkan melakukan shalat,
ikhlas karena Allah Swt.”
Jika niat tayammum untuk melakukan ibadah fardlu, maka diperbolehkan melaksanakan ibadah fardlu serta ibadah sunah. Jika niatnya untuk ibadah sunah, maka hanya diperbolehkan melaksanakan hal-hal yang sunah, dan tidak diperbolehkan mengerjakan ibadah fardlu (wajib). Begitu juga jika niatnya dimutlakkan (tidak khusus untuk fardlu atau sunah), maka statusnya sama dengan niat untuk ibadah sunah saja.
2. Mengusapkan debu pada wajah dan kedua tangan sampai kedua siku. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi :
التَّيَمُّمُ ضَرْبَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ .(رواه الحاكم)
"Tayammum itu dengan dua kali usapan. Satu usapan untuk wajah,
dan satu usapan lagi untuk kedua tangan sampai
kedua siku". (HR. Al-Hâkim)
3. Tertib sesuai dengan urutan di atas. Kewajiban tertib ini disamakan dengan kewajiban tertib pada wudlu, karena tayammum merupakan pengganti wudlu.
Kesunahan Tayammum
Diantara hal-hal yang disunahkan ketika bertayammum ialah :
1. Membaca basmalah.
2. Mendahulukan tangan kanan ketika mengusap.
3. Muwâlâh (dilakukan secara terus menerus), sebagaimana wudlu.
4. Melepaskan cincin pada tepukan tangan yang pertama (mengambil debu untuk wajah). Sedangkan pada tepukan tangan yang kedua hukumnya adalah wajib.
Hal-Hal yang Membatalkan Tayammum
Sesuatu yang membatalkan tayammum ada 3, yaitu :
1. Segala sesuatu yang membatalkan wudlu.
2. Menemukan air sebelum mengerjakan shalat, kecuali tayammum yang dilakukan karena sakit, maka tayammumnya tidak batal. Dan bagi orang yang sakit, tayammumnya bisa batal apabila ia sembuh sebelum mengerjakan shalat. Bagi musâfir yang melihat air ketika sudah mulai melakukan shalat tayammumnya dapat dihukumi batal, jika ia melakukan shalatnya di tempat yang biasa terdapat air.
3. Murtad (keluar dari Islam), menurut pendapat yang kuat. Berbeda dengan wudlu yang tidak dihukumi batal dengan sebab murtad, karena tayammum ialah sebagai dispensasi, dan orang murtad bukan termasuk orang-orang yang layak mendapatkan dispensasi dari syari’at. Sementara wudlu berfungsi sebagai penghilang hadats bukan dispensasi. []
1. KRITERIA SAKIT YANG MEMPERBOLEHKAN TAYAMMUM
Islam datang sebagai satu-satunya konsep yang mampu menyeimbangkan putaran kehidupan ini. Baik dalam hal ritual ibadah, maupun dalam berinteraksi dengan sesama. Dia datang tidak melupakan dunia demi menggapai akhirat, begitu juga sebaliknya. Hal ini dapat kita rasakan pada saat sedang sakit, maka bagi mereka yang menderita sakit, dalam Islam mendapat dispensasi, yakni diantaranya boleh bertayammum (bersuci dengan debu sebagai pengganti dari wudlu dalam keadaan tertentu). Apa kriteria sakit yang diperbolehkan tayammum?
Jawab:
Sakit yang menghawatirkan (al-marod al-makhûf) yaitu, sakit yang mengakibatkan kematian, hilangnya anggota tubuh atau fungsinya ketika terkena air, atau sakit yang belum sampai taraf makhûf. Namun ketika terkena air, akan menjadi peyakit makhûf. Jenis penyakit ini memperbolehkan tayammum menurut konsensus ulama’.
Sakit yang ketika terkena air akan bertambah parah, bertambah lama masa sembuhnya atau khawatir akan membekas pada anggota tubuh yang terlihat saat melaksanakan aktifitas, seperti; wajah dan kedua tangan. Jenis penyakit ini memperbolehkan tayammum menurut pendapat yang kuat ( الرَّاجِحُ ).
Referensi :
كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار الجزء 1 صحـ : 52 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
وَأَمَّا الْمَرَضُ فَهُوَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ اْلأَوَّلُ أَنْ يَخَافَ مَعَهُ بِالْوُضُوْءِ فَوْتَ الرُّوْحِ أَوْ فَوْتَ عُضْوٍ أَوْ فَوْتَ مَنْفَعَةِ الْعُضْوِ وَيُلْحَقُ بِذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ بِهِ مَرَضٌ غَيْرُ مَخُوْفٍ إِلاَّ أَنَّهُ يُخَافُ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ أَنْ يَصِيْرَ مَرَضاً مَخُوْفاً فَيُبَاحُ لَهُ التَّيَمُّمُ اَلْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَخَافَ زِيَادَةَ الْعِلَّةِ وَهُوَ كَثْرَةُ اْلأَلَمِ وَإِنْ لَمْ تَزِدِ الْمُدَّةُ أَوْ يَخَافَ بَطْءَ الْبُرْءِ وَهُوَ طُوْلُ مُدَّةِ الْمَرَضِ وَإِنْ لَمْ يَزِدْ اْلأَلَمُ أَوْ يَخَافَ شِدَّةَ الضَّنَى وَهُوَ الْمَرَضُ الْمُدْنِفُ الَّذِي يَجْعَلَهُ ضَنًى أَوْ يَخَافَ حُصُوْلَ شَيْنٍ قَبِيْحٍ كَالسَّوَادِ عَلَى عُضْوٍ ظَاهِرٍ كَالْوَجْهِ وَغَيْرِهِ مِمَّا يَبْدُوْ عِنْدَ الْمِهْنَةِ وَهِيَ الْخِدْمَةُ وَفِي جَمِيْعِ هَذِهِ الصُّوَرِ خِلاَفٌ مُنْتَشِرٌ وَالرَّاجِحُ جَوَازُ التَّيَمُّمِ الْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَخَافَ شَيْئاً يَسِيْراً كَأَثَرِ الْجُدْرِيِّ أَوْ سَوَاداً قَلِيْلاً أَوْ يَخَافَ شَيْئاً قَبٍيْحاً عَلَى غَيْرِ اْلأَعْضَاءِ الظَّاهِرَةِ أَوْ يَكُوْنَ بِهِ مَرَضٌ لاَ يَخَافُ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ مَعَهُ مَحْذُوْراً فِي الْعَاقِبَةِ وَإِنْ تَأَلَّمَ فِي الْحَالِ كَجَرَاحَةٍ أَوْ بَرَدٍ أَوْ حَرٍّ فَلاَ يَجُوْزُ التَّيَمُّمُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا بِلاَ خِلاَفٍ وَاللهُ أَعْلَمُ اهـ
2. BATASAN PENYAKIT YANG LAMA MASA PENYEMBUHANNYA
Diantara faktor yang memperbolehkan tayammum adalah, sakit yang ketika terkena air akan memperlambat masa sembuhnya. Sebatas mana standar lamanya masa penyembuhan yang memperbolehkan tayammum?
Jawab: Sekira lambatnya kesembuhan itu mencukupi untuk melakukan shalat.
Referensi:
بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 49 مكتبة دار الفكر
وَقَالَ اَلْبَرْمَاوِيُّ وَضَابِطُ تَأْخِيْرِ الْبُرْءِ أَيْ طُوْلِ مُدَّتِهِ بِأَنْ يَسَعَ قَدْرَ صَلاَةٍ أَوْ وَقْتَ الْمَغْرِبِ اهـ
3. ORANG YANG MENENTUKAN PENYAKIT AKUT
Untuk mengetahui penyakit yang dideritanya memperbolehkan tayammum atau tidak, apakah harus melalui petunjuk dokter, ataukah bagi dirinya boleh memastikan penyakitnya sendiri?
Jawab: Dalam hal ini, boleh berpegangan pada orang adil atau orang yang bisa dipercaya, seperti; dokter. Adapun untuk memastikan penyakitnya dengan dirinya sendiri, dapat dianggap cukup, apabila mengetahui tentang ilmu kedokteran. Namun jika hanya dari hasil percobaan atau pengalaman, menurut Imam Romli belum cukup. Sedangkan menurut Imam Ibn Hajar dan Imam Asnawi dianggap cukup.
Referensi:
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 1 صحـ : 95 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
وَيُعْتَمَدُ فِيْ خَوْفِ مَا ذُكِرَ قَوْلُ عَدْلٍ فِي الرِّوَايَةِ وَقِيلَ لاَ بُدَّ مِنْ اثْنَيْنِ قَوْلُهُ ( عَدْلٍ فِي الرِّوَايَةِ ) وَهُوَ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ الَّذِي لَمْ يَرْتَكِبْ كَبِيرَةً وَلَمْ يُصِرَّ عَلَى صَغِيرَةٍ وَكَالْعَدْلِ فَاسِقٌ وَلَوْ كَافِرًا اعْتُقِدَ صِدْقُهُ وَيَعْمَلُ بِمَعْرِفَتِهِ لِنَفْسِهِ إنْ عَرَفَ الطِّبَّ مُطْلَقًا وَاعْتَمَدَ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ عَدَمَ اْلاكْتِفَاءِ بِالتَّجْرِبَةِ وَاكْتَفَى بِهَا اْلإِسْنَوِيُّ وَابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُمَا وَاعْتَمَدَهُ بَعْضُ مَشَايِخِنَا وَهُوَ الْوَجْهُ كَمَا فِي جَوَازِ الْعُدُولِ إلَى الْمَيْتَةِ مَعَ الْخَوْفِ مِنْ اسْتِعْمَالِ الطَّاهِرِ فِي الْمُضْطَرِّ اهـ
4. STANDAR JARAK JAUH DALAM TAYAMMUM
Di daerah pelosok Madura yang namanya kekeringan sering terjadi, sehingga air baru bisa diperoleh, setelah menempuh jarak + 7 km. Apakah kondisi yang demikian termasuk memperbolehkan tayammum?
Jawab: Ya, karena jarak tempuh yang melebihi 4,5 km termasuk hadd al-bu'di (jarak jauh), yang konsekuensinya tidak mewajibkan bersuci dengan air, meskipun pada jarak tersebut diyakini terdapat air.
Referensi:
حاشية الجمل الجزء 1 صحـ : 200 مكتبة دار الفكر
وَالْحَاصِلُ أَنَّ لِلْمُتَيَمِّمِ أَحْوَالاً فِي حُدُودٍ ثَلاَثَةٍ أَحَدُهَا الْغَوْثُ فَإِنْ تَيَقَّنَ فَقْدَ الْمَاءِ تَيَمَّمَ بِلاَ طَلَبٍ وَإِنْ تَيَقَّنَ وُجُودَهُ فِيهِ لَزِمَهُ طَلَبُهُ إنْ لَمْ يَكُنْ مَانِعٌ وَلاَ يَتَيَمَّمُ وَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ وَإِنْ تَرَدَّدَ فِيهِ لَزِمَهُ طَلَبُهُ أَيْضًا بِشَرْطِ اْلأَمْنِ عَلَى مَا مَرَّ وَعَلَى اْلاخْتِصَاصِ وَالْوَقْتِ ثَانِيْهَا حَدُّ الْقُرْبِ فَإِنْ عَلِمَ فَقْدَ الْمَاءِ فِيْهِ تَيَمَّمَ بِلاَ طَلَبٍ بِالْأَوْلَى مِمَّا قَبْلَهُ وَإِنْ عَلِمَ وُجُوْدَهُ فِيهِ لَزِمَهُ طَلَبُهُ بِشَرْطِ اْلأَمْنِ أَيْضًا وَمِنْهُ اْلأَمْنُ عَلَى الْوَقْتِ لاَ عَلَى اْلاخْتِصَاصِ وَالْمَالُ الَّذِي يَجِبُ بَذْلُهُ لِمَاءِ طَهَارَتِهِ وَإِنْ تَرَدَّدَ فِيهِ لَمْ يَجِبْ طَلَبُهُ مُطْلَقًا ثَالِثُهَا حَدُّ الْبُعْدِ وَهُوَ مَا فَوْقَ حَدِّ الْقُرْبِ فَلاَ يَجِبُ فِيهِ الطَّلَبُ مُطْلَقًا سَوَاءٌ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ الْمُسَافِرُ وَالْمُقِيْمُ وَمَا وَقَعَ لِلْعَلاَّمَةِ ابْن قَاسِمٍ هُنَا فِيهِ نَظَرٌ بَلْ لاَ يَسْتَقِيمُ انْتَهَتْ اهـ
التقريرات السديدة صحـ : 146
ثُمَّ الْبَحْثُ فِي حَدِّ الْقُرْبِ يَجِبُ اِذَا تَيَقَّنَ الْفَقْدَ مُسَافَتَهُ 9000 ذِرَاعًا أي مِيْلٌ وَنِصْف تَقْرِيْبًا (4,5 كيلو متر تقريبا)
5. ANTRIAN MENGAMBIL AIR MEMBOLEHKAN TAYAMMUM
Pada musim kemarau, air sangat sulit didapatkan, sehingga ada yang rela berjalan berkilo-kilo dan menanti antrian panjang, hanya untuk mendapatkan air. Apakah antrian panjang yang menghabiskan waktu shalat dapat memperbolehkan tayammum?
Jawab: Ya, dan tidak perlu meng-qadlâ’-i shalat yang dilakukan.
Referensi:
تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 1 صحـ : 305 مكتبة دار إحياء التراث العربي
( قَوْلُهُ أَحَدُهَا فَقْدُ الْمَاءِ حِسًّا كَأَنْ حَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ سَبُعٌ ) أَقُولُ وَجْهُ هَذَا الْمِثَالِ مِنَ الْفَقْدِ الْحِسِّيِّ تَعَذُّرُ الْوُصُولِ لِلْمَاءِ وَاسْتِعْمَالِهِ حِسًّا بِخِلاَفِ مَا لَوْ قَدَرَ عَلَى الْوُصُولِ إلَيْهِ وَاسْتِعْمَالِهِ حِسًّا لَكِنْ مَنَعَهُ الشَّرْعُ مِنْهُ فَإِنَّهُ فَقْدٌ حِسِّيٌّ شَرْعِيٌّ فَانْدَفَعَ اْلاعْتِرَاضُ بِأَنَّ هَذَا فَقْدٌ شَرْعِيٌّ لاَ حِسِّيٌّ وَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ قَضَاءَ مَعَ الْفَقْدِ الْحِسِّيِّ سَوَاءٌ الْمُسَافِرُ وَالْمُقِيْمُ وَمِنْهُ مَسْأَلَةُ حَيْلُوْلَةِ السَّبُعِ وَمِنْهُ مَسْأَلَةُ تَنَاوُبِ الْبِِئْرِ إذَا انْحَصَرَ اْلأَمْرُ فِيهَا وَعَلِمَ أَنَّ نَوْبَتَهُ لاَ تَأْتِيْ إلاَ خَارِجَ الْوَقْتِ وَمِنْهُ مَسْأَلَةُ خَوْفِ مَنْ فِي السَّفِينَةِ اْلاسْتِقَاءَ مِنْ الْبَحْرِ م ر اهـ
6. MEMBELI AIR BAGI YANG MEMILIKI HARTA MELIMPAH
Karena panjangnya musim kemarau, penjual air bersih memanfaatkan kondisi tersebut, dengan menjual air bersih seharga dua kali lipat dari harga biasanya. Apakah bagi yang mempunyai uang lebih, wajib membeli air untuk digunakan bersuci?
Jawab: Wajib membeli, apabila harganya masih standar.
Referensi:
تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 1 صحـ :336 مكتبة دار إحياء التراث العربي
( وَيَجِبُ شِرَاؤُهُ ) أَيِ الْمَاءِ لِلطَّهَارَةِ وَمِثْلُهُ التُّرَابُ وَلَوْ بِمَحَلٍّ يَلْزَمُهُ فِيهِ الْقَضَاءُ وَنَحْوُ الدَّلْوِ وَاسْتِئْجَارُهُ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ لاَ قَبْلَهُ كَمَا يَلْزَمُهُ شِرَاءُ سَاتِرِ الْعَوْرَةِ - إلى أن قال - ( بِثَمَنٍ ) أَوْ أُجْرَةِ ( مِثْلِهِ ) وَهُوَ مَا يَرْغَبُ بِهِ فِيهِ زَمَانًا وَمَكَانًا مَا لَمْ يَنْتَهِ اْلأَمْرُ لِسَدِّ الرَّمَقِ ِلانَّ الشًّرْبَةَ حِينَئِذٍ قَدْ تُسَاوِيْ دَنَانِيرَ فَلاَ يُكَلَّفُ زِيَادَةً عَلَى ذَلِكَ وَإِنْ قُلْتَ مَا لَمْ يُبَعْ بِمُؤَجَّلٍ مُمْتَدٍّ إلَى زَمَنٍ يُمْكِنُهُ الْوُصُولُ فِيهِ لِمَحَلِّ مَالِهِ عَادَةً وَالزِّيَادَةُ لاَئِقَةٌ بِاْلأَجَلِ عُرْفًا اهـ
7. AIR TIDAK CUKUP DIGUNAKAN TAYAMMUM
Jika seseorang mempunyai air, namun tidak cukup digunakan bersuci secara sempurna, apakah baginya boleh melakukan tayammum atau tetap wajib menggunakannya?
Jawab: Tidak boleh, baginya tetap wajib menggunakan air tersebut dan melakukan tayammum sebagai ganti anggota tubuh yang belum terbasuh.
Referensi:
كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار صحـ : 63 مكتبة دار إحياء الكتب
[ فَرْعٌ ] لَوْ لَمْ يَجِدْ الْجُنُبُ أَو الْمُحْدِثُ إِلاَّ مَاءً لاَ يَكْفِيْهِ وَجَبَ عَلَيْهِ اسْتِعْمَالُهُ عَلَى الصَّحِيْحِ وَيَجِبُ التَّيَمَّمُ لِلْبَاقِيْ وَلَوْ لَمْ يَجِدْ إِلاَّ تُرَاباً لاَ يَكْفِيْهِ وَجَبَ اسْتِعْمَالُهُ عَلَى الْمَذْهَبِ وَكَذَا لَوْ كَانَ عَلَيْهِ نَجَاسَاتٌ فَوَجَدَ مِنَ الْمَاءِ مَا يَغْسِلُ بَعْضَهَا وَجَبَ غَسْلُهُ عَلَى الْمَذْهَبِ فَلَوْ كَانَ مُحْدِثاً أَوْ جُنُباً أَوْ عَلَيْهِ نَجَاسَةٌ وَوَجَدَ مَا يَكْفِيْ أَحَدَهُمَا غَسَلَ النَّجَاسَةَ ثُمَّ تَيَمَّمَ ِلأنَّ النَّجَاسَةَ لاَ بَدَلَ لَهَا اهـ
8. DIBERI UANG UNTUK MEMBELI AIR
Apabila bersuci harus dengan membeli air wajib dilakukan, asalkan harganya masih standar. Bagaimana jika ada seorang dermawan yang mau memberi air untuk bersuci, atau uang guna membeli air, apakah wajib diterima?
Jawab: Wajib menerima jika pemberiannya berupa air. Bila berupa uang, tidak wajib menerima, karena besarnya tuntutan balas budi.
Referensi:
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 1 صحـ : 93 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
( وَلَوْ وُهِبَ لَهُ مَاءٌ أَوْ أُعِيْرَ دَلْوًا ) أَوْ رِشَاءً ( وَجَبَ الْقَبُولُ فِي اْلأَصَحِّ ) وَلَوْ وُهِبَ ثَمَنُهُ فَلاَ يَجِبُ قَبُولُهُ قَطْعًا لِعِظَمِ الْمِنَّةِ فِيْهِ وَخِفَّتِهَا فِيمَا قَبْلَهُ اهـ
9. TAKUT TERTINGGAL KERETA API
Kereta api sering berhenti di beberapa stasiun. Namun jika turun untuk berwudlu dan melakukan shalat, ada kekhawatiran akan tertinggal. Apakah keadaan yang demikian memperbolehkan tayammum?
Jawab: Ya diperbolehkan, karena tertinggal kereta api dapat menyebabkan perasaan sedih dan gelisah.
Referensi:
حاشية البجيرمي على المنهج الجزء 1 صحـ : 199 مكتبة دار الفكر
فَلَوْ عَلِمَ مَاءً بِمَحِلٍّ يَصِلُهُ مُسَافِرٌ لِحَاجَتِهِ كَاحْتِطَابٍ وَاحْتِشَاشٍ وَهَذَا فَوْقَ حَدِّ الْغَوْثِ الْمُتَقَدِّمِ وَيُسَمَّى حَدَّ الْقُرْبِ وَجَبَ طَلَبُهُ مِنْهُ إنْ أَمِنَ غَيْرَ اخْتِصَاصٍ وَمَالٍ يَجِبُ بَذْلُهُ لِمَاءِ طَهَارَتِهِ ثَمَنًا أَوْ أُجْرَةً مِنْ نَفْسٍ وَعُضْوٍ وَمَالٍ زَائِدٍ عَلَى مَا يَجِبُ بَذْلُهُ لِلْمَاءِ وَانْقِطَاعٍ عَنْ رُفْقَةٍ لَهُ وَخُرُوجِ وَقْتٍ وَإِلاَّ فَلاَ يَجِبُ طَلَبُهُ ( قَوْلُهُ وَانْقِطَاعٍ عَنْ رُفْقَةٍ ) لِضَرَرِ التَّخَلُّفِ عَنْهُمْ وَكَذَا إنْ لَمْ يَضُرَّهُ فِي اْلأَصَحِّ لِمَا يَلْحَقُهُ مِنْ الْوَحْشَةِ اهـ
10. HENDAK TAYAMMUM TERKENA NAJIS
Termasuk syarat tayammum adalah anggota tubuh suci dari najis. Apakah bagi yang tidak menemukan air, ketika hendak melakukan shalat diharuskan bertayammum dulu, sementara anggota badannya ada yang terkena najis?
Jawab: Menurut Imam Ibn Hajar, sebelum melakukan shalat tetap wajib bertayammum dulu. Namun menurut Imam Romli, langsung shalat tanpa harus bertayammum. Dan setelahnya tetap wajib meng-qadlâ’ shalat tersebut.
Referensi:
الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 1 صحـ : 69 مكتبة الإسلامية
(وَسُئِلَ) وَمَنْ عَلَيْهِ نَجَسٌ وَلَمْ يَجِدْ مَاءً هَلْ يَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّيْ وَإِذَا مَاتَ وَعَلَيْهِ نَجَسٌ وَلَمْ يُوجَدْ مَاءٌ هَلْ يَتَيَمَّمُ (فَأَجَابَ) وَمَنْ عَلَيْهِ نَجَسٌ وَلَمْ يَجِدْ مَاءً يَلْزَمُهُ التَّيَمُّمُ وَالصَّلاَةُ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ ثُمَّ الْقَضَاءُ وَكَذَا يَجِبُ أَنْ يُيَمَّمَ الْمَيِّتُ الَّذِي عَلَيْهِ نَجَاسَةٌ وَلَمْ يُوجَدْ مَاءٌ اهـ
حاشية البجيرمي على الخطيب الجزء 1 صحـ : 280 مكتبة دار الفكر
وَلَوْ لَمْ يَجِدْ مَاءً يَسْتَنْجِي بِهِ أَوْ يُزِيْلُ بِهِ النَّجَاسَةَ لَمْ يَتَيَمَّمْ بَلْ هُوَ كَفَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ خِلاَفًا ِلابْنِ حَجَرٍ اهـ
11. SIKAP ORANG YANG TAYAMMUM KETIKA BADANNYA NAJIS
Menghilangkan najis dari seluruh anggota badan, merupakan syarat mutlak bagi orang yang akan melaksanakan shalat. Baik bagi orang yang cara bersucinya melalui wudlu, maupun penggantinya, yakni tayammum. Namun apakah tidak najisnya anggota tubuh, masih disyaratkan bagi orang yang tayammum, karena mau membaca al-Qur’an atau membawanya?
Jawab: Tidak disyaratkan menurut Imam ar-Raimi.
Referensi:
بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 48 مكتبة دار الفكر
(مَسْأَلَةُ ب ش) إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ عَنِ الْبَدَنِ شَرْطٌ لِصِحَّةِ التَّيَمُّمِ كَاْلاجْتِهَادِ فِي الْقِبْلَةِ أَوْ تَقْلِيْدِ اْلأَعْمَى فِيْهَا نَعَمْ إِنْ تَعَذَّرَ إِزَالَتُهَا لِنَحْوِ مَرَضٍ وَفَقْدِ مَاءٍ تَيَمَّمَ وَصَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَقضَى كَمَا قَالَهُ ابْنُ حَجَر زَادَ ع ش فلََوْ وَجَدَهُ مَاءً قَلِيْلاً تَعَيَّنَ لِلنَّجَاسَةِ وَإِنْ لَزِمَهُ قَضَاءُ الصّلاَةِ بِالتَّيَمَّمِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ اهـ قُلْتُ وَقَالَ م ر لاَ يَصِحُ التَّيَمُّمُ قَبْلَ إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ أيِ الْغَيْرِ الْمَعْفُوِّّ عَنْهَا وَإِنْ تَعَذَّرَتْ إِزَالَتُهَا بَلْ يُصَلِّي حِيْنَئِذٍ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَيُعِيْدُ اهـ
بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 48 مكتبة دار الفكر
وَنَقَلَ فِي اْلإِيْعَابِ عَنِ الرّيْمِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ مَحَلَّ اشْتِرَاطِ إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ لِلتَّيَمُّمِ لِنَحْوِ الصَّلاَةِ أَمَّا الْقِرَاءَةُ وَمَسُّ الْمُصْحَفِ فَيَصِحُ لَهُمَا التَّيَمُّمُ مَعَ بَقَاءِ نَجَاسَةِ النَجْوِ وَغَيْرِهِ قَالَ وَهُوَ حَسَنٌ اهـ
12. TAYAMMUM DENGAN DEBU KACA MOBIL
Tayammum harus dilakukan dengan memakai debu. Apakah menempelkan tangan ke tembok atau kaca kendaraan, lalu diusapkan ke wajah, dianggap cukup dalam bertayammum?
Jawab: Cukup, apabila tembok atau kaca kendaraan terdapat debu halus (jawa; bleduk).
Referensi:
حاشية الشرقاوي الجزء الاول صحـ : 95 مكتبة دار الكتب الإسلامية
وَالْمُرَادُ بِالتُّرَابِ مَا يَصْدُقُ عَلَيْهِ اسْمُهُ بِأَيِّ لَوْنٍٍ كَانَ خِلْقَةً وَمِنْ أَيِّ مَحَلٍ أُخِذَ كَثَوْبٍ أَوْ حَصِيْرٍٍ أَوْ جِدَارٍٍ أَوْ حِنْطَةٍ أَوْ شَعِيْرٍٍ إذَا كَانَ فِي كُلٍّ مِنْهَا غُبَارٌ وَلَوْ مِنْ بَدَنٍ مُغَلَّظٍ إذَا لَمْ يُعْلَمْ تَنَجُّسُ الْمَأْخُوْذِ فَيَدْخُلُ فِيْهِ الْمَحْرُوْقُ مِنْهُ وَلَوْ أَسْوَدَ مَا لَمْ يَصِرْ رَمَادًا اهـ
13. LETAK NIAT TAYAMMUM
Telah kita ketahui, niat harus dilakukan pada permulaan ibadah. Ketika bertayammum, kapankah kita harus melakukan niat?
Jawab: Niat tayammum dilakukan, ketika memukulkan tangan ke debu, sehingga wajib niat sebelum tangan diangkat dari debu. Namun menurut pendapat yang kuat, niat tayammum cukup dilakukan sebelum debu sampai ke wajah, walaupun saat memukulkan tangan ke debu tidak niat.
Referensi:
كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار صحـ : 57 مكتبة دار إحياء الكتب
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ تُتَأَخَّرَ النِّيَّةُ عَنْ أَوَّلِ مَفْرُوْضٍ وَأَوَّلُ أّفْعَالِهِ الْمَفْرُوْضَةِ نَقْلُ التُّرَابِ وَالْمُرَادُ بِالنَّقْلِ الضَّرْبُ فَلاَ بُدَّ مِنَ النِّيَّةِ قَبْلَ رَفْعِ يَدَيْهِ مِنَ التُّرَابٍِ اهـ
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 1 صحـ : 101 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
وَأَرْكَانُهُ أَيِ التَّيَمُّمِ نَقْلُ التُّرَابِ إلَى الْعُضْوِ لِمَا تَقَدَّمَ فِي اْلآيَةِ وَفِي ضِمْنِ النَّقْلِ الْوَاجِبِ قَرْنُ النِّيَّةِ بِهِ كَمَا سَيَأْتِيْ الْقَصْدُ قَوْلُهُ ( نَقْلُ التُّرَابِ ) فَلاَ يُشْتَرَطُ الضَّرْبُ وَالْمُرَادُ بِهِ وُجُودُ النِّيَّةِ قَبْلَ مُمَاسَّةِ الْوَجْهِ حَالَةَ كَوْنِ التُّرَابِ عَلَى مَا يُمْسَحُ بِهِ كَالْيَدِ اهـ
توشيح صحـ : 33 مكتبة الهداية
وَيَجِبُ قَرْنُ نِيَّةِ التَّيَمُّمِ وَهُوَ نِيَّةُ اْلاسْتِبَاحَةِ فَقَطْ بِنَقْلِ التُّرَابِ لِلْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ وَيَجِبُ اسْتِدَامَةُ هَذِهِ النِّيَّةِ اِلَى مَسْحِ شَيْءٍ مِنَ الْوَجْهِ وَالْمُعْتَمَدُ اْلاكَتِفَاءُ بِاِسْتِحْضَارِهَا عِنْدَ مَسْحِ شَيْءٍ مِنَ الْوَجْهِ فَاْلاسْتِدَامَةُ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ بَلْ لَوْ لَمْ يَنْوِ اِلاَّ عِنْدَ اِرَادَةِ مَسْحٍ الْوَجْهِ أَجْزَأَهُ وَلاَيُنَافِيْهِ قَوْلُهُمْ يَجِبُ قَرْنُهَا بِالنَّقْلِ ِلأنَّ الْمُرَادَ بِالنَّقْلِ هُوَ النَّقْلُ الْمُعْتَدُّ بِهِ وَهُوَ النَّقْلُ مِنَ الْيَدَيْنِ اِلَى الْوَجْهِ وَقَدِ اقْتَرَنَتِ النِّيَّةُ بِهِ اهـ
14. NIAT BAGI YANG MENTAYAMMUMI MAYAT
Telah kita ketahui, bahwa dalam memandikan mayat tidak diwajibkan niat. Apakah tayammum sebagai ganti dari memandikan mayat juga tidak harus niat seperti halnya memandikan mayat?
Jawab: Tidak wajib niat, seperti halnya memandikan.
Referensi:
فتاوى الرملي الجزء 1 صحـ : 79 مكتبة الإسلامية
( سُئِلَ ) عَمَّنْ يَمَّمَ مَيِّتًا لِفَقْدِ الْمَاءِ هَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَنْوِيَ أَمْ لاَ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ لاَ تَجِبُ عَلَيْهِ النِّيَّةُ كَمَا لاَ تَجِبُ عَلَيْهِ فِي غَسْلِهِ الَّذِي هُوَ أَصْلُهُ ِلانَّ الْقَصْدَ مِنْهُ النَّظَافَةُ وَهِيَ لاَ تَتَوَقَّفُ عَلَى نِيَّةٍ وَِلأَنَّهَا إنَّمَا تُشْتَرَطُ فِي سَائِرِ التَّيَمُّمَاتِ عَلَى الْمُتَيَمِّمِ وَالْمَيِّتُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهَا وَمَنْ يَمَّمَهُ إنَّمَا هُوَ آلَةٌ وَلَيْسَ بِمُتَعَبِّدٍ اهـ
15. BATASAN WAJAH DALAM TAYAMMUM
Sebagaimana yang tertera dalam literatur clasik, bahwa media dalam bertayammum adalah dengan menggunakan debu. Sehingga dalam peraktek pengusapannya pun juga berbeda. Kendati secara esensial sama, yakni mengusap wajah hinga merata. Namun apakah sama batasan wajah yang harus diusap dalam wudlu dengan tayammum?
Jawab: Ya, sama. Lebih jelasnya, berikut perinciannya: Semua bagian wajah, meliputi bagian-bagian yang berlekuk, seperti tepi mata, lekuk hidung, bagian diantara hidung, serta bibir yang terlihat dari luar. Untuk anggota wajah yang ditumbuhi rambut, hanya diusap bagian luarnya saja.
Referensi:
روضة الطالبين وعمدة المفتين الجزء 1 صحـ : 112 مكتبة الإسلامية
اَلرُّكْنُ الْخَامِسُ مَسْحُ الْوَجْهِ وَيَجِبُ اسْتِيْعَابُهُ وَلاَ يَجِبُ إِيْصَالُ التُّرَابِ إِلَى مَنَابِتِ الشُّعُوْرِ اَلَّتِي يَجِبُ إٍِيْصَالُ الْمَاءِ إِلَيْهَا فِي الْوُضُوْءِ عَلَى الْمَذْهَبِ وَيَجِبُ إِيْصَالُهُ إِلَى ظَاهِرِ مَا اسْتَرْسَلَ مِنَ اللِّحْيَةِ عَلَى اْلأَظْهَرِ كَمَا فِي الْوُضُوْءِ اهـ
فقه العبادات شافعي الجزء 1 صحـ : 165 مكتبة الشاملة
وَلاَ يَجِبُ إِيْصَالُ التُّرَابِ إِلَى مَنَابِتِ الشَّعْرِ بَلْ وَلاَ يُنْدَبُ وَلَوْ خَفِيْفًا لِمَا فِيْهِ مِنَ الْمَشَقَّةِ بِخِلاَفِ الْمَاءِ لَكِنْ يَجِبُ أَنْ يَتَعَهَّدَ مُنْعَطِفَاتُ الْوَجْهِ كَجَوَانِبِ اْلآمَاقِ وَاللِّحَاظِ وَالأَنْفِ وَمُقْبِلِهِ مِنَ اْلأَسْفَلِ ِلانَّ ذَلِكَ مِنْ بَشَرَةِ الْوَجْهِ وَهَذَا يَغْفُلُ عَنْهُ الْكَثِيْرُوْنَ كَمَا لاَ يَجُوْزُ أنْ يَغْفُلَ عَنْ ظَاهِرِ الشَّفَتَيْنِ عِنْدَ إِطْبَاقِهِمَا اهـ
16. KULIT BAGIAN DALAM KUKU KETIKA TAYAMMUM
Dalam Bab Wudlu, ada pendapat yang mengatakan, bahwa kotoran di bawah kuku yang menghalangi sampainya air, tidak wajib dihilangkan. Apakah ketika bertayammum debu harus sampai dikulit bagian bawah kuku?
Jawab: Tidak wajib.
Referensi:
حاشية الجمل الجزء 1 صحـ : 218 مكتبة دار الفكر
( قَوْلُهُ ثُمَّ يَدَيْهِ ) فَهَلْ يَجِبُ إزَالَةُ مَا تَحْتَ اْلأَظْفَارِ مِمَّا يَمْنَعُ الْوُصُوْلَ إلَيْهِ كَمَا فِي الْوُضُوءِ أَمْ لاَ جَزَمَ شَيْخُنَا الزِّيَادِيُّ بِاْلأَوَّلِ وَفَرَّقَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَدَمِ وُجُوبِ إيْصَالِ التُّرَابِ إلَى مَنَابِتِ الشَّعْرِ الْخَفِيْفِ بِأَنَّ اْلأَظْفَارَ مَطْلُوْبَةُ اْلإِزَالَةِ بِخِلاَفِ الشَّعْرِ الْخَفِيْفِ وَإِنْ نَدَرَ - إلى أن قال - وَفِي ق ل عَلَى الْجَلاَلِ وَلاَ يَجِبُ إيْصَالُ التُّرَابِ لِمَا تَحْتَ اْلأَظْفَارِ كَمَا رَجَعَ إلَيْهِ شَيْخُنَا اهـ
17. TAYAMMUM UNTUK BEBERAPA ANGGOTA YANG BERHALANGAN
Disaat berhalangan, anggota badan yang wajib dibasuh ketika wudlu atau mandi, dapat diganti dengan tayammum. Jika terdapat satu atau dua anggota yang berhalangan, berapakah tayammum yang dibutuhkan, baik dalam wudlu atau mandi?
Jawab: Diperinci;
Apabila dalam mandi wajib, maka cukup satu tayammum, meskipun anggota yang berhalangan lebih dari satu.
Jika dalam hal wudlu, apabila antara anggota badan tersebut wajib tertib, maka tayammum sesuai dengan jumlah anggota yang berhalangan. Seperti wajah dan kedua tangan. Apabila tidak wajib tertib, seperti tangan kanan dan tangan kiri atau kaki kanan dan kaki kiri, maka cukup satu tayammum, meskipun ada kesunahan untuk melakukan tayammum sebanyak dua kali.
Referensi:
إعانة الطالبين صحـ : 73 مكتبة دار الفكر
وَالْحَاصِلُ أَنَّ التَّيَمُّمَ يَتَعَدَّدُ بِعَدَد اْلأَعْضَاءِ إِنْ وَجَبَ فِيْهَا التَّرْتِيْبُ وَلَمْ تَعُمُّهَا الْجَرَاحَةُ فَإِنِ امْتَنَعَ اسْتِعْمَالُ الْمَاءِ فِي عَضْوَيْنِ وَجَبَ تَيَمُّمَانِ أَوْ ثَلاَثَةٍ فَثَلاَثٌ أَوْ فِي أَرْبَعَةٍ وَعَمَّتْ الْجَرَاحَةُ الرَّأْسَ فَأَرْبَعٌ فَإِنْ بَقِيَ مِنَ الرَّأْسِ جُزْءٌ سَلِيْمٌ وَجَبَ مَسْحُهُ مَعَ ثَلاَثَةِ تَيَمُّمَاتٍ فَإِنْ وُجِدَتِ الْجَرَاحَةِ فِي اْلأَعْضَاءِ الَّتِيْ لاَ تَرْتِيْبَ فِيْهَا كَالْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ لَمْ يَجِبْ تَعَدُّدُهُ بَلْ يُنْدَبُ فَقَطْ وَإِنْ عَمَّتِ الْجَرَاحَةُ جَمِيْعَ اْلاَعْضَاءِ أَجْزَأَ عَنْهَا تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا فِي الْمُحْدِثِ وَأَمَّا نَحْوُ الْجُنُبِ فَيَكْفِيْهِ تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ وَلَوْ وُجِدَتِ الْجَرَاحَةُ فَي جَمِيْعِ الْاَعْضَاءِ اهـ
18. TAYAMMUMNYA WAJAH DAN KEDUA TANGAN YANG TERLUKA
Diantara fungsi tayammum adalah menggantikan basuhan angota wudlu yang tidak boleh terkena air. Jika wajah dan kedua tangan tidak bisa dibasuh, berapakah tayammum yang dibutuhkan?
Jawab: Cukup satu tayammum, karena tidak ada tertib antara wajah dan kedua tangan dalam kasus di atas.
Referensi:
فتاوى الرملي الجزء 1 صحـ : 98 مكتبة الإسلامية
( سُئِلَ ) عَمَّا لَوْ عَمَّتْ الْجِرَاحَةُ جَمِيعَ وَجْهِهِ وَيَدَيْهِ هَلْ يَكْفِيْهِ تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ أَمْ لاَ بُدَّ مِنْ تَيَمُّمَيْنِ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ يَكْفِيهِ تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ إذْ لاَ تَرْتِيْبَ بَيْنَ وَجْهِهِ وَيَدَيْهِ حِينَئِذٍ اهـ
19. NIAT TAYAMMUM MENCUKUPI NIAT WUDLU
Entah karena apa, seseorang bagian wajahnya rata dengan luka, dan akan bertambah parah jika terkena air. Ketika mau melakukan wudlu, sudah barang tentu pembasuhan wajahnya diganti dengan tayammum, untuk anggota yang lain dibasuh seperti biasanya. Apakah niat tayammum ketika mengganti basuhan wajah, sudah mencukupi niat wudlu, sehingga tidak perlu niat wudlu lagi?
Jawab: Menurut Imam Ibn Hajar tidak cukup, bahkan wajib niat wudlu lagi saat membasuh tangan. Namun menurut Imam Romli dan Imam al-Isnâwi, niat tayammumnya sudah mencukupi niat wudlu, dan tanpa harus niat wudlu lagi, ketika niat tayammumnya menggunakan lafadz ْلاسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ.
Referensi:
فتاوى الرملي الجزء 1 صحـ : 94 مكتبة الإسلامية
( سُئِلَ ) عَمَّا لَوْ عَمَّتْ الْعِلَّةُ وَجْهَهُ فَتَيَمَّمَ عَنْهَا هَلْ تَكْفِيْهِ النِّيَّةُ لَهُ عَنْ نِيَّةِ الْوُضُوءِ عِنْدَ غَسْلِ بَقِيَّةِ اْلأَعْضَاءِ - إلى أن قال - ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ تَكْفِيْهِ النِّيَّةُ اْلأُولَى فَلاَ يَحْتَاجُ إلَى نِيَّةٍ عِنْدَ غَسْلِ بَقِيَّةِ اْلأَعْضَاءِ إذْ نِيَّةُ الْوُضُوءِ لاَ تَكُونُ إلاَّ عِنْدَ تَطْهِيْرِ الْوَجْهِ وَقَدْ حَصَلَتْ عِنْدَهُ نِيَّةُ اْلاسْتِبَاحَةِ فَشَمِلَتِ الْمَغْسُولَ أَيْضًا وَأَمَّا إذَا كَانَتْ الْغَسْلَةُ فِي غَيْرِ الْوَجْهِ فَلاَ تَكْفِي نِيَّةُ الْوُضُوءِ وَإِنْ نَوَى بِهَا اسْتِبَاحَةَ الصَّلاَةِ عَنْ نِيَّةِ التَّيَمُّمِ لأنَّهُ طَهَارَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ تَفْتَقِرُ إلَى نِيَّةٍ تَقْتَرِنُ بِنَقْلِ التُّرَابِ وَبِمَسْحِ الْوَجْهِ وَإِنْ بَحَثَ النَّوَوِيُّ اْلاكْتِفَاءَ بِهَا إذَا نَوَى بِهَا اسْتِبَاحَةَ الصَّلاَةِ اهـ
تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 1 صحـ : 198 مكتتبة دار إحياء التراث العربي
وَيَجِبُ قَرْنُهَا أَيِ النِّيَّةِ بِأَوَّلِِ مَغْسُولٍ مِنَ الْوَجْهِ - إلى أن قال - ( تَنْبِيهٌ ) اْلأَوْجَهُ فِيمَنْ سَقَطَ غَسْلُ وَجْهِهِ فَقَطْ لِعِلَّةٍ وَلاَ جَبِيرَةَ وُجُوبُ قَرْنِهَا بِأَوَّلِِ مَغْسُولٍ مِنَ الْيَدِ فَإِنْ سَقَطَتَا أَيْضًا فَالرَّأْسُ فَالرِّجْلُ وَلاَ يَكْتَفِيْ بِنِيَّةِ التَّيَمُّمِ لاسْتِقْلاَلِهِ كَمَا لاَ تَكْفِي نِيَّةُ الْوُضُوءِ فِي مَحَلِّهَا عَنِ التَّيَمُّمِ لِنَحْوِ الْيَدِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ ( قَوْلُهُ وَلاَ يَكْتَفِيْ بِنِيَّةِ التَّيَمُّمِ إلَخْ ) سَنَذْكُرُ فِي بَابِ التَّيَمُّمِ عَنْ شَرْحِ الْعُبَابِ مَا نَصُّهُ قَالَ اْلإِسْنَوِيُّ لَوْ كَانَتْ يَدُهُ عَلِيلَةً فَإِنْ نَوَى عِنْدَ غَسْلِ وَجْهِهِ رَفْعَ الْحَدَثِ احْتَاجَ لِنِيَّةٍ أُخْرَى عِنْدَ التَّيَمُّمِ لأنَّهُ لَمْ يَنْدَرِجْ فِي النِّيَّةِ اْلأُولَى أَوْ نِيَّةِ اْلاسْتِبَاحَةِ فَلاَ وَإِنْ عَمَّتِ الْجِرَاحَةُ وَجْهَهُ لَمْ يَحْتَجْ عِنْدَ غَسْلِ غَيْرِهِ إلَى نِيَّةٍ أُخْرَى غَيْرِ نِيَّةِ التَّيَمُّمِ انْتَهَى
20. NIAT WUDLU MENCUKUPI NIAT TAYAMMUM
Ketika anggota tangan seseorang terluka dan tidak boleh terkena air, cara berwudlunya adalah terlebih dahulu membasuh bagian wajah. Kemudian tayammum sebagai ganti dari basuhan tangan, lalu dilanjutkan dengan pembasuhan kepala dan kaki. Apakah saat melakukan tayammum diharuskan niat kembali, padahal sebelumnya sudah niat wudlu?
Jawab: Menurut Imam Romli, saat bertayammum wajib niat lagi. Sedangkan menurut Imam Nawawi dan Imam al-Isnâwi, ketika bertayammum tidak harus niat lagi, asalkan saat melakukan wudlu berniat استباحة الصلاة
Referensi:
فتاوى الرملي الجزء 1 صحـ : 93 مكتبة الإسلامية
أَمَّا إذَا كَانَتِ الْغَسْلَةُ فِيْ غَيْرِ الْوَجْهِ فَلاَ تَكْفِيْ نِيَّةُ الْوُضُوءِ وَإِنْ نَوَى بِهَا اسْتِبَاحَةَ الصَّلاَةِ عَنْ نِيَّةِ التَّيَمُّمِ ِلأنَّهُ طَهَارَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ تَفْتَقِرُ إلَى نِيَّةٍ تَقْتَرِنُ بِنَقْلِ التُّرَابِ وَبِمَسْحِ الْوَجْهِ وَإِنْ بَحَثَ النَّوَوِيُّ اْلاكْتِفَاءَ بِهَا إذَا نَوَى بِهَا اسْتِبَاحَةَ الصَّلاَةِ اهـ
بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 48 مكتبة دار الفكر
[ فَائِدَةٌ ] قَالَ اْلأَسْنَوِي لَوْ كَانَتِ الْعِلَّةُ بِيَدِهِ فَإِنْ نَوَى عِنْدَ غَسْلِ وَجْهِهِ رَفْعَ الْحَدَثِ احْتَاجَ لِنِيَّةٍ أُخْرَى عِنْدَ التَّيَمُّمِ لأنَّهُ لَمْ يَنْدَرِجْ فِي النِّيَّةِ اْلأُوْلَى أَوِ اْلاسْتِبَاحَةِ فَلاَ وَلَوْ عَمَّتِ الْجَرَاحَةُ وَجْهَهِ لَمْ يَحْتَجْ لِلنِّيَّةِ عِنْدَ غَسْلِ بَقِيَّةِ اْلأَعْضَاءِ بَلْ تَكْفِيْهِ نِيَّةُ التَّيَمُّمَ اهـ إيْعَابٌ لَكِنْ رَجَّحَ فِي التُّحْفَةِ وُجُوْبَ نِيَّةِ الْوُضُوْءِ عِنْدَ الْيَدِ
21. CARA MENGUSAP PERBAN
Dikatakan bahwa anggota yang diperban, pembasuhannya wajib diganti tayammum dan perbannya wajib diusap. Apakah dalam mengusap perban harus merata?
Jawab: Menurut pendapat yang kuat wajib merata, karena cara bersuci semacam ini merupakan dispensasi, sehingga harus dilakukan dengan maksimal, sebagaimana pengusapan dalam tayammum. Menurut pendapat yang lain, cukup mengusap sebagian perban, karena sama dengan mengusap khûf (alas kaki).
Referensi:
المجموع الجزء 2 صحـ : 367 مكتبة مطبعة المنيرية
قَالَ الْمُصَنِّفُ رحمه الله تعالى ( إذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ كَسْرٌ يَحْتَاجُ إلَى وَضْعِ الْجَبَائِرِ وَضَعَ الْجَبَائِرَ عَلَى طُهْرٍ فَإِنْ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ ثُمَّ أَحْدَثَ وَخَافَ مِنْ نَزْعِهَا أَوْ وَضَعَهَا عَلَى غَيْرِ طُهْرٍ وَخَافَ مِنْ نَزْعِهَا مَسَحَ عَلَى الْجَبَائِرِ لأنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَمَرَ عَلِيًّا رضي الله عنه أَنْ يَمْسَحَ عَلَى الْجَبَائِرِ وَِلأنَّهُ تَلْحَقُهُ الْمَشَقَّةُ فِي نَزْعِهَا فَجَازَ الْمَسْحُ عَلَيْهَا كَالْخُفِّ وَهَلْ يَلْزَمُهُ مَسْحُ الْجَمِيعِ أَمْ لاَ فِيهِ وَجْهَانِ ( أَحَدُهُمَا ) يَلْزَمُهُ مَسْحُ الْجَمِيعِ ِلأنَّهُ مَسْحٌ أُجِيْزَ لِلضَّرُورَةِ فَوَجَبَ فِيهِ اْلاسْتِيعَابُ كَالْمَسْحِ فِي التَّيَمُّمِ اهـ
22. CARA BERSUCI SAAT MUKA & KEDUA WAJAH PENUH LUKA
Bagaimana dengan bersucinya seseorang yang hendak melakukan shalat, sementara semua anggotanya (muka dan kedua tangan) diperban akibat terbakar?
Jawab: Ia tidak wajib bersuci, melainkan langsung melakukan shalat, sebagaimana orang yang tidak menemukan air atau debu dan dia wajib qadlâ’.
Referensi:
فتاوى الرملي الجزء 1 صحـ : 93 مكتبة الإسلامية
(سُئِلَ) عَمَّنْ سَتَرَتْ جَمِيعَ أَعْضَاءِ تَيَمُّمِهِ الْجَبِيرَاتُ هَلْ يَتَيَمَّمُ عَلَيْهَا أَمْ يُصَلِّيْ كَفَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ ثُمَّ يُعِيْدُ (فَأَجَابَ) بِأَنَّهُ لاَ يَجِبُ عَلَيْهِ التَّيَمُّمُ وَيُصَلِّي كَفَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ ثُمَّ يُعِيْدُ وَلَكِنْ يُسَنُّ لَهُ التَّيَمُّمُ خُرُوْجًا مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ اهـ
23. QADLÂ’-NYA ORANG YANG DIPERBAN
Apakah shalat yang dilakukan oleh penderita luka yang diperban harus di-qadlâ’-i, mengingat anggota tubuhnya ada yang tidak terkena air atau debu karena tertutup perban?
Jawab: Tidak wajib di-qadlâ’-i, jika memenuhi tiga syarat;
Perban tidak terdapat pada wajah dan kedua tangan.
Tidak mengikutkan bagian anggota yang sehat.
Atau mengikutkan bagian tubuh yang sehat, karena hanya untuk memudahkan pemasangan, akan tetapi waktu meletakkan perbannya setelah dia berwudlu.
Referensi:
حاشية البجيرمي على المنهج الجزء 1 صحـ : 129 مكتبة دار الفكر العربي
وَحَاصِلُ مَسْأَلَةِ الْجَبِيْرَةِ أَنَّهَا تَارَةً تَكُونُ فِي أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ وَتَارَةً لاَ وَعَلَى كُلٍّ تَارَةً تَأْخُذُ مِنَ الصَّحِيْحِ شَيْئًا وَتَارَةً لاَ وَإِذَا أَخَذَتْ تَارَةً يَكُونُ بِقَدْرِ مَا يَسْتَمْسِكُ بِهِ وَتَارَةً يَكُونُ أَكْثَرَ فَإِنْ كَانَتْ فِي أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ قَضَى مُطْلَقًا وَإِنْ كَانَتْ فِي غَيْرِ أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ وَلَمْ تَأْخُذْ مِنَ الصَّحِيْحِ شَيْئًا لاَ يَقْضِيْ مُطْلَقًا وَإِنْ أَخَذَتْ مِنَ الصَّحِيْحِ زِيَادَةً عَلَى قَدْرِ مَا اسْتَمْسَكَتْ بِهِ قَضَى مُطْلَقًا وَإِنْ كَانَ بِقَدْرِ مَا تَسْتَمْسِكُ بِهِ وَلَمْ يُمْكِنْ نَزْعُهُ إنْ كَانَ وَضْعُهَا عَلَى طُهْرٍ كَامِلٍ لاَ يَقْضِيْ وَإِلاَّ قَضَى س ل اهـ
24. SHALAT LIHURMAT AL-WAQTI MEMBACA FATIHAH
Bagi orang yang tidak menemukan air maupun debu untuk bersuci, tetap wajib shalat, karena li hurmati al-waqti. Bolehkah bagi orang tersebut membaca Fatihah ketika melakukan shalat, sementara ia dalam keadaan sedang junub?
Jawab: Boleh, bahkan wajib, karena untuk keabsahan shalat.
Referensi:
إعانة الطالبين صحـ : 85 مكتبة دار الفكر
وَاسْتُثْنِيَ مِنْ حُرْمَةِ الْقِرَاءَةِ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ عَلَى فَاقِدِ الطُّهُوْرَيْنِ فِي الْمَكْتُوْبَةِ وَقِرَاءَََةُ آيَةٍ فِي خُطْبَةِ جُمُعَةٍ فَإِنَّهَا تَجِبُ عَلَيْهِ لِضَرُوْرَةٍ تُوْقَفُ صِحَّةُ الصَّلاَةِ عَلَيْهَا اهـ
25. TAYAMMUM UNTUK KHUTBAH DAN SHALAT JUM’AT
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa satu tayammum hanya bisa untuk melakukan satu ibadah fardlu. Apakah untuk melakukan shalat Jum'at dan khutbahnya dibutuhkan dua tayammum?
Jawab: Menurut Imam Nawawi dan Imam Rofi'I, harus dengan dua tayammum. Namun menurut ulama’ Mutaakhirîn, cukup dengan satu tayammum.
Referensi:
فتاوى الرملي وعميرة الجزء 1 صحـ :101 مكتبة الإسلامية
( سُئِلَ ) عَمَّا إذَا تَيَمَّمَ لِلْجُمُعَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ وَقُلْتُمْ بِالصِّحَّةِ هَلْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالْخُطْبَةِ بِهَذَا التَّيَمُّمِ أَمْ لاَ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ قَدْ صَحَّحَ الشَّيْخَانِ أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الْجُمُعَةِ وَخُطْبَتِهَا بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ وَإِنْ قَالَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ الصَّوَابُ الْقَطْعُ بِالْجَوَازِ اهـ
26. CARA WUDLU ORANG YANG SEBAGIAN ANGGOTANYA LUKA
Sungguh malang nasib para penumpang bus Harapan Jadi. Pada saat dalam perjalan menuju ke gua Selo Mangkleng, bus yang mereka tumpangi ditabrak truk dari belakang, sehingga para penumpang terpental ke aspal dan berguling-guling. Tapi alhamdulillâh, dalam kecelakaan tersebut tidak ada korban yang meninggal, hanya saja kebanyakan dari para penumpang mengalami luka-luka. Sekalipun begitu, oleh pihak dokter di wanti-wanti untuk sementara waktu, luka tersebut jangan sampai terkena air, biar tidak tambah parah.
Pertanyaan:
a. Bagaimana cara bersucinya seseorang yang sebagian anggota wudlunya tidak boleh terkena air akibat luka?
Jawab: Bagian yang terluka, digantikan dengan tayammum, sementara anggota yang lain, wajib dibasuh sebagaimana biasa. Supaya anggota yang terluka tidak terkena air, sebaiknya saat membasuh bagian yang dekat dengan luka, menggunakan potongan kain yang telah dibasahi, kemudian kain tersebut diperas pelan-pelan, agar tetesannya merata disekeliling anggota yang terluka. Jika luka terdapat di anggota tayammum, maka anggota yang luka tersebut, wajib diusap dengan debu. Mengenai pelaksanaan tayammum, harus dilakukan ketika sudah masuk waktu pembasuhan bagian yang luka. Semisal luka terdapat pada tangan, maka tayammum dilakukan setelah membasuh wajah. Namun dalam mandi besar, tayammum dapat dilakukan kapan saja, karena mandi tidak disyaratkan harus tertib.
Referensi:
منهاج الطالبين بحاشيتي قليوبي وعميرة الجزء 1 صـ : 96 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
وَإِذَا امْتَنَعَ اسْتِعْمَالُهُ أَيْ الْمَاءِ فِي عُضْوٍ إنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ سَاتِرٌ وَجَبَ التَّيَمُّمُ وَكَذَا غَسْلُ الصَّحِيحِ عَلَى الْمَذْهَبِ - الى ان قال - وَيَتَلَطَّفُ فِي غَسْلِ الصَّحِيحِ الْمُجَاوِرِ لِلْعَلِيلِ بِوَضْعِ خِرْقَةٍ مَبْلُولَةٍ بِقُرْبِهِ وَيَتَحَامَلُ عَلَيْهَا لِيَنْغَسِلَ بِالْمُتَقَاطِرِ مِنْهَا مَا حَوَالَيْهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسِيلَ إلَيْهِ وَلا تَرْتِيبَ بَيْنَهُمَا أَيْ بَيْنَ التَّيَمُّمِ وَالْغَسْلِ لِلْجُنُبِ وُجُوبًا وَالأَوْلَى لَهُ تَقْدِيمُ التَّيَمُّمِ لِيُزِيلَ الْمَاءُ أَثَرَ التُّرَابِ ذَكَرَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ فِي الْجُنُبِ وَنَحْوِهِ فِي الْمُحْدِثِ - الى ان قال - فَإِنْ كَانَ مَنْ بِهِ الْعِلَّةُ مُحْدِثًا فَالأَصَحُّ اشْتِرَاطُ التَّيَمُّمِ وَقْتَ غَسْلِ الْعَلِيلِ رِعَايَةً لِتَرْتِيبِ الْوُضُوءِ قَوْلُهُ ( لِيَنْغَسِلَ إلَخْ ) فَهُوَ غَسْلٌ حَقِيقَةً فَإِنْ تَعَذَّرَ غَسْلُهُ غَسْلا خَفِيفًا كَمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمَسَّهُ مَاءً بِلا إفَاضَةٍ وَلا يَكْفِي مَسْحُهُ بِالْمَاءِ اهـ
حاشية البيجوري الجزء الأول صـ : 96 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
فإنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ سَاتِرٌ وَجَبَ عَلَيْهِ التَّيَمُّمُ (قوله وَجَبَ عليه التَّيَمُّمُ ) اى بَدَلاً عَنْ مَحَلِ الْعِلَّةِ فَاِنْ كَانَتْ فِي مَحَلِ التَّيَمًّمِ فَلا بُدَّ مِنْ إِمْرَارِ التُرَابِ عَلَى مَحَلِ الْعِلَّةِ مَا أَمْكَنَ اهـ
b. Dan bagaimana pula dengan bersuci dan shalatnya seseorang yang seluruh anggota badannya dipenuhi dengan luka?
Jawab: Bagi dia harus melakukan shalat tanpa bersuci terlebih dahulu, dan setelah sembuh, dia harus mengulanginya.
Referensi:
فتاوى الرملي الجزء 1 صـ : 99 مكتبة الإسلامية
( سُئِلَ ) عَمَّا لَوْ عَمَّتْ الْجِرَاحَةُ أَعْضَاءَهُ وَعَجَزَ عَنْ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ وَالتُّرَابِ فَهَلْ يَلْحَقُ بِفَاقِدِ الطَّهُورَيْنِ حَتَّى تَلْزَمَهُ الإِعَادَةُ أَمْ لا ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ يَقْضِي مَا صَلَّى عَلَى حَالَتِهِ الْمَذْكُورَةِ لأَنَّهُ فَاقِدُ الطَّهُورَيْنِ إذْ الْفَقْدُ الشَّرْعِيُّ كَالْحِسِّيِّ اهـ
27. CARA WUDLU ORANG YANG ANGGOTANYA DI GIP
Anak muda zaman sekarang memang sulit diatur, kalaupun dinasehati, mereka malah mengira kita benci padanya. Sebut saja mas Dugal yang dikenal paling ugal-ugalan diantara teman-teman yang lain. Karena sering ngebut dan antraksi disaat bermotor. Tiang listrik yang diam seribu bahasa saja ditabrak tanpa ampun, sampai peleg ban depannya menjadi angka delapan. Akibat dari kecelakaan itu, ia mengalami luka-luka dan patah tulang. Dan menurut dokter, dia harus pasang gip pada bagian tulang yang patah.
Pertanyaan:
a. Bagaimana cara bersucinya seseorang yang sebagian anggotanya dipasang gip atau dibalut perban, sementara tidak mungkin membukanya?
Jawab: Cara bersucinya sama dengan cara bersucinya orang yang terluka. Yakni, bagian yang diperban diganti dengan tayammum, dan anggota yang lain, wajib dibasuh sebagaimana biasa. Disamping itu, juga berkewajiban mengusap perban dengan air. Mengenai pelaksanaan tayammum dan mengusap perban, harus dilakukan ketika sudah masuk waktu pembasuhan bagian yang luka. Semisal luka terdapat pada tangan, maka tayammum dilakukan setelah membasuh wajah. Namun dalam hal mandi besar, tayammum dapat dilakukan kapan saja, karena mandi tidak disyaratkan harus tertib.
Referensi:
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 1 صـ : 97 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
وَإِنْ كَانَ بِالْعُضْوِ سَاتِرٌ كَجَبِيرَةٍ لا يُمْكِنُ نَزْعُهَا بِأَنْ يَخَافَ مِنْهُ مَحْذُورٌ مِمَّا سَبَقَ غَسَلَ الصَّحِيحَ وَتَيَمَّمَ كَمَا سَبَقَ وَيَجِبُ مَعَ ذَلِكَ مَسْحُ كُلِّ جَبِيرَتِهِ بِمَاءٍ اسْتِعْمَالًا لِلْمَاءِ مَا أَمْكَنَ - الى ان قال - وَيَمْسَحُ الْجُنُبَ مَتَى شَاءَ وَالْمُحْدِثُ وَقْتَ غَسْلِ الْعَلِيلِ وَاحْتَرَزَ بِمَاءٍ عَنْ التُّرَابِ فَلا يَجِبُ مَسْحُهَا بِهِ إذَا كَانَتْ فِي مَحَلِّ التَّيَمُّمِ اهـ
b. Benda apa saja yang dapat dikategorikan sebagai jabîrah (perban)?
Jawab: Semua benda yang dapat menutupi luka, mencakup kain, kapas, perban, salep dan sebagainya.
Referensi:
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج الجزء 1 صـ : 256 مكتبة دار الكتب العلمية
( فَإِنْ كَانَ ) عَلَى الْعُضْوِ الَّذِي امْتَنَعَ اسْتِعْمَالُ الْمَاءِ فِيهِ سَاتِرٌ ( كَجَبِيرَةٍ لا يُمْكِنُ نَزْعُهَا ) لِخَوْفِ مَحْذُورٍ مِمَّا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ وَكَذَا اللَّصُوقُ بِفَتْحِ اللاَّمِ وَالشُّقُوقُ الَّتِي فِي الرِّجْلِ إذَا احْتَاجَ إلَى تَقْطِيرِ شَيْءٍ فِيهَا يَمْنَعُ مِنْ وُصُولِ الْمَاءِ وَالْجَبِيرَةُ بِفَتْحِ الْجِيمِ وَالْجِبَارَةُ بِكَسْرِهَا خَشْبٌ أَوْ قَصَبٌ يُسَوَّى وَيُشَدُّ عَلَى مَوْضِعِ الْكَسْرِ أَوْ الْخَلْعِ لِيَنْجَبِرَ وَقَالَ الْمَاوَرْدِيُّ الْجَبِيرَةُ مَا كَانَ عَلَى كَسْرٍ وَاللَّصُوقُ مَا كَانَ عَلَى جَرْحٍ وَمِنْهُ عِصَابَةُ الْفَصْدِ وَنَحْوِهَا وَلِهَذَا عَبَّرَ الْمُصَنِّفُ بِالسَّاتِرِ لِعُمُومِهِ وَمَثَّلَ بِالْجَبِيرَةِ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar