Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya:
1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ? Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati" . Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.(Ali Imran : 185) Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ? Murid-muridnya ada yang menjawab Negara China, bulan,matahari,dan bintang-bintang.Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "Masa Lalu" . Bagaimanapun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama. Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ke tiga.
3. Apa yang paling besar di dunia ? Murid-muridnya ada yang menjawah gunung,bumi,dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf: 179). Maka dengan itu kita harus hati-hati dengan nafsu kita, agar jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka. Pertanyaan ke empat adalah:
4. Apa yang paling berat di dunia ? Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawapan semua benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "Memegang AMANAH" (Al Ahzab: 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung,dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) didunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka kerana ia tidak biasa memegang amanahnya. Pertanyaan yang ke lima adalah,
5. Apa yang paling ringan di dunia ? Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "Meninggalkan Shalat" . Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan shalat. Lantas pertanyaan ke enam adalah,
6. Apa yang paling tajam di dunia ? Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah "Lidah Manusia" . Kerana melalui lidah, manusia dengan senangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Semoga bermanfaat!
RUBRIK
- HUKUM (13)
- artikel (12)
- kisi hikmah (7)
- KALAM MOTIVASI (6)
- PUISI (4)
- Biography (3)
- Warna-Warni (3)
- sejarah (3)
- opini (2)
- tribakti (2)
- cerpen (1)
- kisah teladan (1)
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 26 Agustus 2011
Kamis, 19 Mei 2011
bercermin diri
Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.
Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis, rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya.
Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.
Dan Allah suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal", "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan". Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur,
yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah.
Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin 'topeng' belaka. Topeng sarung, seragam, jas, , sorban, atau 'asesoris' lainnya. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, ganteng , lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya.
Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar 'topeng' ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut 'topeng' kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang 'aslinya'.
Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi Allah selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya 'topeng' yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah Yang Maha Agung,
kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata yang terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, 'laa ilaaha ilallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus?
Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampuni?"
Lalu tataplah diri kita tanyalah, "Hai kamu ini anak sholeh atau anak
durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar,
bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik
hancur mendidih di dalam lahar membara jahanam, terpanggang tanpa ampun, derita tiada akhir?"
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak orang lain yang engkau rampas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus
kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?"
Lalu ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang
menyebalkan?" Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu?"
"Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?
Khusyu-kah shalatmu, dzikirmu, doamu, ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"
"Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang
tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat
selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah yang terbungkus topeng-topeng duniawi" Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini. ***
*) dikuttip ceramah KH. Abdullah Gimnastiyar (aa`Gym)
Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis, rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya.
Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.
Dan Allah suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal", "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan". Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur,
yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah.
Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin 'topeng' belaka. Topeng sarung, seragam, jas, , sorban, atau 'asesoris' lainnya. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, ganteng , lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya.
Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar 'topeng' ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut 'topeng' kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang 'aslinya'.
Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi Allah selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya 'topeng' yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah Yang Maha Agung,
kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata yang terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, 'laa ilaaha ilallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus?
Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampuni?"
Lalu tataplah diri kita tanyalah, "Hai kamu ini anak sholeh atau anak
durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar,
bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik
hancur mendidih di dalam lahar membara jahanam, terpanggang tanpa ampun, derita tiada akhir?"
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak orang lain yang engkau rampas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus
kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?"
Lalu ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang
menyebalkan?" Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu?"
"Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?
Khusyu-kah shalatmu, dzikirmu, doamu, ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"
"Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang
tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat
selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah yang terbungkus topeng-topeng duniawi" Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini. ***
*) dikuttip ceramah KH. Abdullah Gimnastiyar (aa`Gym)
RUBRIK:
artikel
bola itu bulat
Oleh fakhrur rozi
Saat ini hampir semua mata penggemar bola tertuju pada pagelaran akbar Liga HMP.
Seandainya saja kita melihat dari kaca mata motivasi dan pembelajaran diri, banyak sekali hal yang bisa kita dapat dari pagelaran akbar ini selain sekedar menonton bola.
Bola itu bulat! Segalanya bisa terjadi di sepak bola.
Ini adalah prinsip dasar yang banyak dipegang oleh hampir seluruh pelatih ataupun pemain sepakbola.
Mereka tahu dalam sepak bola banyak kejutan. Banyak tim yang di atas kertas pasti menang tapi ternyata pulang duluan. Seringkali tim yang diunggulkan tiba-tiba dikalahkan.Tim yang diremehkan tiba-tiba muncul jadi pemenang.
Artinya dalam dunia bola semua mungkin terjadi, resiko kalah selalu mengancam, harapan selalu ada.
Seandainya saja kita bisa mengaplikasikan itu dalam kehidupan, mungkin kita akan jadi pemenang, setidaknya punya mental pemenang.
Kadang kita merasa kalau modal kita lebih besar kita akan menang persaingan, tapi kehidupan juga seperti sepak bola, yang modal kecil juga bisa menang.
Jika kita percaya segala kemungkinan bisa terjadi maka kita tidak akan cepat puas, tidak akan menganggap enteng persaingan dan menyepelekan prestasi dalam kehidupan.
Kita tidak akan mudah sesumbar dan percaya diri tanpa persiapan.
Karena hidup juga seperti bola, jadi kita harus selalu siaga.
Kadang kita merasa kalau prestasi kita di sekolah bagus masa depan akan cerah, padahal tidak selalu begitu, karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.
Kadang kita merasa kalau kita selalu bekerja keras siang malam akan lebih sukses dari yang bekerja biasa-biasa saja, padahal tidak selalu begitu. Yang bekerja cerdas walau terkesan santai seringkali bisa lebih sukses.
Kadang ada yang merasa karena saat ini rajin ibadah kita akan pasti khusnul khaotimah, padahal belum tentu, karena itu kita harus selalu menjaga diri dan konsisten sampai akhir hayat. Ingat, syetan akan selalu berusaha mencari kelemahan kita.
Intinya, selalu siaga atas segala kemungkinan, selalu mawas diri, selalu konsisten, jangan sampai lengah, karena kehidupan juga berputar seperti bola.
Allahu A`lam
Saat ini hampir semua mata penggemar bola tertuju pada pagelaran akbar Liga HMP.
Seandainya saja kita melihat dari kaca mata motivasi dan pembelajaran diri, banyak sekali hal yang bisa kita dapat dari pagelaran akbar ini selain sekedar menonton bola.
Bola itu bulat! Segalanya bisa terjadi di sepak bola.
Ini adalah prinsip dasar yang banyak dipegang oleh hampir seluruh pelatih ataupun pemain sepakbola.
Mereka tahu dalam sepak bola banyak kejutan. Banyak tim yang di atas kertas pasti menang tapi ternyata pulang duluan. Seringkali tim yang diunggulkan tiba-tiba dikalahkan.Tim yang diremehkan tiba-tiba muncul jadi pemenang.
Artinya dalam dunia bola semua mungkin terjadi, resiko kalah selalu mengancam, harapan selalu ada.
Seandainya saja kita bisa mengaplikasikan itu dalam kehidupan, mungkin kita akan jadi pemenang, setidaknya punya mental pemenang.
Kadang kita merasa kalau modal kita lebih besar kita akan menang persaingan, tapi kehidupan juga seperti sepak bola, yang modal kecil juga bisa menang.
Jika kita percaya segala kemungkinan bisa terjadi maka kita tidak akan cepat puas, tidak akan menganggap enteng persaingan dan menyepelekan prestasi dalam kehidupan.
Kita tidak akan mudah sesumbar dan percaya diri tanpa persiapan.
Karena hidup juga seperti bola, jadi kita harus selalu siaga.
Kadang kita merasa kalau prestasi kita di sekolah bagus masa depan akan cerah, padahal tidak selalu begitu, karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.
Kadang kita merasa kalau kita selalu bekerja keras siang malam akan lebih sukses dari yang bekerja biasa-biasa saja, padahal tidak selalu begitu. Yang bekerja cerdas walau terkesan santai seringkali bisa lebih sukses.
Kadang ada yang merasa karena saat ini rajin ibadah kita akan pasti khusnul khaotimah, padahal belum tentu, karena itu kita harus selalu menjaga diri dan konsisten sampai akhir hayat. Ingat, syetan akan selalu berusaha mencari kelemahan kita.
Intinya, selalu siaga atas segala kemungkinan, selalu mawas diri, selalu konsisten, jangan sampai lengah, karena kehidupan juga berputar seperti bola.
Allahu A`lam
RUBRIK:
artikel
Senin, 18 April 2011
AFIIQ EDISI AGUSTUS
O l e h :
Mukhtar Naoem
Alumni Tribakti tahun 2007 (Atlantik)
Tulisan ini saya kutip dari sebuah
mailing list. Barangkali bagus juga
untuk kita renungkan. Terima kasih.
--
Sebaiknya kita semua mulai
mengendalikan kata-kata yang
keluar dari mulut kita dengan kata-
Kata yang Positif dan Baik.
O l e h :
Mukhtar Naoem
Alumni Tribakti tahun 2007 (Atlantik)
Tulisan ini saya kutip dari sebuah
mailing list. Barangkali bagus juga
untuk kita renungkan. Terima kasih.
--
Sebaiknya kita semua mulai
mengendalikan kata-kata yang
keluar dari mulut kita dengan kata-
Kata yang Positif dan Baik.
RUBRIK:
artikel
Senin, 11 April 2011
BOLA ITU BULAT
afiiq edisi juli 2010
Oleh : wahyudin,III MA TRIBAKTI
Saat ini hampir semua mata penggemar bola tertuju pada pagelaran akbar piala dunia.
Seandainya saja kita melihat dari kaca mata motivasi dan pembelajaran diri, banyak sekali hal yang bisa kita dapat dari pagelaran akbar itu selain sekedar menonton bola.
Bola itu bulat! Segalanya bisa terjadi di sepak bola.
Ini adalah prinsip dasar yang banyak dipegang oleh hampir seluruh pelatih ataupun pemain sepakbola.
Mereka tahu dalam sepak bola banyak kejutan. Banyak tim yang di atas kertas pasti menang tapi ternyata pulang duluan. Seringkali tim yang diunggulkan tiba-tiba dikalahkan.Tim yang diremehkan tiba-tiba muncul jadi pemenang.
Artinya dalam dunia bola semua mungkin terjadi, resiko kalah selalu mengancam, harapan selalu ada.
Seandainya saja kita bisa mengaplikasikan itu dalam kehidupan, mungkin kita akan jadi pemenang, setidaknya punya mental pemenang.
Kadang kita merasa kalau modal kita lebih besar kita akan menang persaingan, tapi kehidupan juga seperti sepak bola, yang modal kecil juga bisa menang.
Real Madrid yang beranggaran 420 juta Euro pertahun pernah dikalahkan oleh Alcorcon yang budgetnya 1,1 juat pertahun (Buku NO Excuse hlm 203).
Inggris yang berpengalaman hanya bisa imbang dengan Amerika di pertemuan pertama piala dunia 2010.
Ghana yang negara miskin bisa menggilas negera Eropa Serbia.
Jika kita percaya segala kemungkinan bisa terjadi maka kita tidak akan cepat puas, tidak akan menganggap enteng persaingan dan menyepelekan prestasi dalam kehidupan.
Kita tidak akan mudah sesumbar dan percaya diri tanpa persiapan.
Karena hidup juga seperti bola, jadi kita harus selalu siaga.
Kadang kita merasa kalau prestasi kita di sekolah bagus masa depan akan cerah, padahal tidak selalu begitu, karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.
Kadang kita merasa kalau kita selalu bekerja keras siang malam akan lebih sukses dari yang bekerja biasa-biasa saja, padahal tidak selalu begitu. Yang bekerja cerdas walau terkesan santai seringkali bisa lebih sukses.
Kadang ada yang merasa karena saat ini rajin ibadah kita akan pasti khusnul khaotimah, padahal belum tentu, karena itu kita harus selalu menjaga diri dan konsisten sampai akhir hayat. Ingat, syetan akan selalu berusaha mencari kelemahan kita.
Intinya, selalu siaga atas segala kemungkinan, selalu mawas diri, selalu konsisten, jangan sampai lengah, karena kehidupan juga berputar seperti bola.
RUBRIK:
artikel
Gus Dur dan Lindapnya Sakralisasi Istana
mading afiiq al-mahrusiyah edisi januari 2010
ISTANA yang selama berpuluh tahun dianggap angker dan sakral olah khalayak lindap begitu Gus Dur datang.Gus Dur berharap istana mudah dimasuki rakyat.
KH Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur adalah sosok fenomenal dan kontroversial. Disebut fenomenal karena Gus Dur dikenal sebagai tokoh pejuang demokrasi. Gus Dur sangat intens dalam membangun demokrasi keindonesiaan. Sosok yang bernama lahir Abdurrahman Ad-Dakhil itu––”Ad-Dakhil” berarti sang penakluk–– adalah tokoh besar yang pernah dimiliki Indonesia.
Gus Dur begitu gigih memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), pluralisme,dan simbol ”pelindung” kelompok minoritas. Bagi sebagian kalangan, Gus Dur dianggap kontroversi karena pemikiran dan pandangannya yang sering berseberangan dengan kelompok tertentu.
Bahkan, masyarakat awam pun terkadang sulit menerima apa yang menjadi pemikiran tokoh yang pernah mengaku keturunan Tionghoa ini––dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.
Karena itu, menjadi wajar jika sebagian kalangan kala melihat Gus Dur sontak mengiyakan kisah dalam novel Robert Louis Stevenson yang bercerita tentang dua persona di satu raga manusia, Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde. Namun, secara sadar atau tidak, banyak kalangan yang berpandangan demikian juga memberikan pemakluman atas kontroversi dirinya.
Dapat dimafhumi jika sebagian kalangan tadi punya senarai panjang keberatan terhadap Gus Dur. Namun, lebih banyak pula kalangan yang justru memiliki daftar panjang jasa sang guru bangsa ini, khususnya dalam kehidupan demokrasi di Tanah Air. Gus Dur mungkin juga sadar betul bahwa demokrasi yang didengungkan pasca-Reformasi baru menyentuh format politik, belum pada kultur politik.
Karena itu,dia begitu gigih mengajari bangsa ini cara berdemokrasi dan bertoleransi yang benar. Untuk urusan toleransi,masyarakat perlu mencermati artikel Gus Dur di sebuah majalah mingguan pada dekade 1980-an yang berjudul Menunggu Setan Lewat. Isinya menghentak kesadaran akan disiplin dan tata tertib.Gus Dur mendapat inspirasi untuk menulis artikel itu saat berada di luar negeri ketikatemannya yangmenyopiridia berhenti di sebuah lampu merah pada malam hari.
Padahal jalanan lengang. Gus Dur pun bertanya kepada rekannya itu. ”Buat apa berhenti? Menunggu setan lewat?”Temannya dengan lugas menjawab. ”Ya. karena dia (setan) juga punya hak atas lampu merah ini.” Salah satu hal fenomenal yang diajarkan Gus Dur kepada bangsa ini adalah bagaimana dia mampu mendesakralisasi istana. Dalam kelugasan dan cara pandang Gus Dur, istana kepresidenan dikembalikan ke posisi yang tepat sebagai rumah rakyat.
Sejak era kepemimpinan Gus Dur-lah demonstrasi bisa dilakukan di depan istana,suatu hal yang tak mungkin dilakukan pada era pendahulunya. Gus Dur adalah pelanggar hal yang selama ini dianggap tabu. Istana yang selama ini ”ditakuti” masyarakat diubah oleh Gus Duir menjadi layaknya pesantren tidak resmi. Di masa kepemimpinannya (1999–2001), dari subuh sampai malam istana ramai dikunjungi para koleganya yang berkain sarung dan bersandal jepit.
Bahkan, ketika Gus Dur ”dipaksa” untuk meninggalkan istana, dia pun dengan santai mengenakan baju tidur dan tanpa alas kaki melambaikan tangan kepada pendukungnya. Inilah cara paling manusiawi meninggalkan kekuasaan. Tak terlihat rasa kehilangan akan kekuasaan. Ditemani istri, anaknya, kaum kerabatnya,Gus Dur meninggalkan istana dengan kepala tegak dan dada busung.
Gus Dur lewat cara pandangnya mengajari bangsa ini bahwa tidak ada yang diperlukan untuk menyakralkan istana kepresidenan. Sebab, penyakralan istana kepresidenan boleh jadi setara dengan memerkosa dan mengabaikan apa yang menjadi hak rakyat Indonesia. Gaya Gus Dur bercelana pendek ketika akan meninggalkan istana juga memberikan pelajaran lain,yakni bagaimana seorang Gus Dur yang menjadi representasi rakyat kebanyakan sudah berhasil menginjakkan kaki dengan cara rakyat di istana yang selama ini disakralkan.
Meski tingkatan berbagai rakyat Indonesia itu bisa berlapis- lapis, Gus Dur mewakili cita rasa rakyat kebanyakan. Sepak terjang Gus Dur mendobrak sakralisme istana ini pun ditulis A Muhaimin Iskandar dalam bukunya, Gus Dur yang Saya Kenal: Sebuah Catatan tentang Transisi Demokrasi Kita. Sehari setelah Gus Dur masuk istana sebagai Presiden Keempat RI, publik menyaksikan sebuah pemandangan baru, bahkan radikal. Sejumlah Pengurus Besar NU berkunjung ke Wisma Negara.
Sejumlah kiai sepuh itu bisa memasuki istana meski hanya bersandal jepit khas pesantren.Pemandangan seperti ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya di masa Soeharto. Gus Dur telah memulai babak baru terhadap lembaga kepresidenan. Cara ini merupakan salah satu bentuk demokratisasi Gus Dur untuk menghumanisasi lembaga kepresidenan.
Gus Dur dianggap telah meletakkan dasar dekonstruksi pola hubungan gaya lama yang menempatkan penguasa (pemimpin) jauh dari rakyatnya. Setelah Gus Dur dipanggil Sang Khalik pada 30 Desember 2009,satu hari jelang pergantian tahun, banyak orang merasa kehilangan.Tokoh pemersatu umat telah pergi untuk selamanya.
Boleh jadi perasaan kehilangan itu karena Gus Dur telah menorehkan sebuah tarikan garis dalam kesejarahan demokrasi di Indonesia yang sulit dilupakan dan tak tergantikan.Karena itu,menjadi wajar jika di akhir hayatnya negara pun akhirnya ”harus” menyakralkanGusDurdengan” menegasikan” kearifan lokal NU ketika acara kenegaraan di rumah duka di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan. Selamat jalan sang Penakluk.
(*)dihimpun dari berbagai sumber
ISTANA yang selama berpuluh tahun dianggap angker dan sakral olah khalayak lindap begitu Gus Dur datang.Gus Dur berharap istana mudah dimasuki rakyat.
KH Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur adalah sosok fenomenal dan kontroversial. Disebut fenomenal karena Gus Dur dikenal sebagai tokoh pejuang demokrasi. Gus Dur sangat intens dalam membangun demokrasi keindonesiaan. Sosok yang bernama lahir Abdurrahman Ad-Dakhil itu––”Ad-Dakhil” berarti sang penakluk–– adalah tokoh besar yang pernah dimiliki Indonesia.
Gus Dur begitu gigih memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), pluralisme,dan simbol ”pelindung” kelompok minoritas. Bagi sebagian kalangan, Gus Dur dianggap kontroversi karena pemikiran dan pandangannya yang sering berseberangan dengan kelompok tertentu.
Bahkan, masyarakat awam pun terkadang sulit menerima apa yang menjadi pemikiran tokoh yang pernah mengaku keturunan Tionghoa ini––dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.
Karena itu, menjadi wajar jika sebagian kalangan kala melihat Gus Dur sontak mengiyakan kisah dalam novel Robert Louis Stevenson yang bercerita tentang dua persona di satu raga manusia, Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde. Namun, secara sadar atau tidak, banyak kalangan yang berpandangan demikian juga memberikan pemakluman atas kontroversi dirinya.
Dapat dimafhumi jika sebagian kalangan tadi punya senarai panjang keberatan terhadap Gus Dur. Namun, lebih banyak pula kalangan yang justru memiliki daftar panjang jasa sang guru bangsa ini, khususnya dalam kehidupan demokrasi di Tanah Air. Gus Dur mungkin juga sadar betul bahwa demokrasi yang didengungkan pasca-Reformasi baru menyentuh format politik, belum pada kultur politik.
Karena itu,dia begitu gigih mengajari bangsa ini cara berdemokrasi dan bertoleransi yang benar. Untuk urusan toleransi,masyarakat perlu mencermati artikel Gus Dur di sebuah majalah mingguan pada dekade 1980-an yang berjudul Menunggu Setan Lewat. Isinya menghentak kesadaran akan disiplin dan tata tertib.Gus Dur mendapat inspirasi untuk menulis artikel itu saat berada di luar negeri ketikatemannya yangmenyopiridia berhenti di sebuah lampu merah pada malam hari.
Padahal jalanan lengang. Gus Dur pun bertanya kepada rekannya itu. ”Buat apa berhenti? Menunggu setan lewat?”Temannya dengan lugas menjawab. ”Ya. karena dia (setan) juga punya hak atas lampu merah ini.” Salah satu hal fenomenal yang diajarkan Gus Dur kepada bangsa ini adalah bagaimana dia mampu mendesakralisasi istana. Dalam kelugasan dan cara pandang Gus Dur, istana kepresidenan dikembalikan ke posisi yang tepat sebagai rumah rakyat.
Sejak era kepemimpinan Gus Dur-lah demonstrasi bisa dilakukan di depan istana,suatu hal yang tak mungkin dilakukan pada era pendahulunya. Gus Dur adalah pelanggar hal yang selama ini dianggap tabu. Istana yang selama ini ”ditakuti” masyarakat diubah oleh Gus Duir menjadi layaknya pesantren tidak resmi. Di masa kepemimpinannya (1999–2001), dari subuh sampai malam istana ramai dikunjungi para koleganya yang berkain sarung dan bersandal jepit.
Bahkan, ketika Gus Dur ”dipaksa” untuk meninggalkan istana, dia pun dengan santai mengenakan baju tidur dan tanpa alas kaki melambaikan tangan kepada pendukungnya. Inilah cara paling manusiawi meninggalkan kekuasaan. Tak terlihat rasa kehilangan akan kekuasaan. Ditemani istri, anaknya, kaum kerabatnya,Gus Dur meninggalkan istana dengan kepala tegak dan dada busung.
Gus Dur lewat cara pandangnya mengajari bangsa ini bahwa tidak ada yang diperlukan untuk menyakralkan istana kepresidenan. Sebab, penyakralan istana kepresidenan boleh jadi setara dengan memerkosa dan mengabaikan apa yang menjadi hak rakyat Indonesia. Gaya Gus Dur bercelana pendek ketika akan meninggalkan istana juga memberikan pelajaran lain,yakni bagaimana seorang Gus Dur yang menjadi representasi rakyat kebanyakan sudah berhasil menginjakkan kaki dengan cara rakyat di istana yang selama ini disakralkan.
Meski tingkatan berbagai rakyat Indonesia itu bisa berlapis- lapis, Gus Dur mewakili cita rasa rakyat kebanyakan. Sepak terjang Gus Dur mendobrak sakralisme istana ini pun ditulis A Muhaimin Iskandar dalam bukunya, Gus Dur yang Saya Kenal: Sebuah Catatan tentang Transisi Demokrasi Kita. Sehari setelah Gus Dur masuk istana sebagai Presiden Keempat RI, publik menyaksikan sebuah pemandangan baru, bahkan radikal. Sejumlah Pengurus Besar NU berkunjung ke Wisma Negara.
Sejumlah kiai sepuh itu bisa memasuki istana meski hanya bersandal jepit khas pesantren.Pemandangan seperti ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya di masa Soeharto. Gus Dur telah memulai babak baru terhadap lembaga kepresidenan. Cara ini merupakan salah satu bentuk demokratisasi Gus Dur untuk menghumanisasi lembaga kepresidenan.
Gus Dur dianggap telah meletakkan dasar dekonstruksi pola hubungan gaya lama yang menempatkan penguasa (pemimpin) jauh dari rakyatnya. Setelah Gus Dur dipanggil Sang Khalik pada 30 Desember 2009,satu hari jelang pergantian tahun, banyak orang merasa kehilangan.Tokoh pemersatu umat telah pergi untuk selamanya.
Boleh jadi perasaan kehilangan itu karena Gus Dur telah menorehkan sebuah tarikan garis dalam kesejarahan demokrasi di Indonesia yang sulit dilupakan dan tak tergantikan.Karena itu,menjadi wajar jika di akhir hayatnya negara pun akhirnya ”harus” menyakralkanGusDurdengan” menegasikan” kearifan lokal NU ketika acara kenegaraan di rumah duka di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan. Selamat jalan sang Penakluk.
(*)dihimpun dari berbagai sumber
RUBRIK:
artikel
Kamis, 24 Februari 2011
SEKOKOH DAN SELENTUR BAMBU
Sepertinya tak ada orang yang tak mengenal bambu. Tumbuhan dengan batang lurus menjulang sering ini disebut juga dengan pohon bambu. Bambu sebenarnya berasal dari keluarga rumput-rumputan. Namun ia memiliki batang seperti layaknya pohon. Bambu juga dijuluki raja dari masyarakat rerumputan.
Bambu menyimpan banyak inspirasi bagi manusia. Latar belakang bambu yang berasal dari keluarga rumput yang dikesankan sebagai tumbuhan lemah dan diremehkan tidaklah menghalanginya berekspresi. Bambu mampu mengekspesikan diri menjadi sosok yang kokoh namun lentur dan kaya manfaat. Dengan kemampuan ekspresi yang kuat dan unik maka kita akan berhasil menjadi yang terbaik, minimal di komunitas kita.
Fleksibilitas atau kelenturan bambu mengajari manusia bagaimana mampu beradaptasi pada lingkungan yang ekstrim sekaligus. Saat arus masalah datang, kita perlu bersikap lentur, tidak menentang atau hanyut atau bahkan lari darinya. Penentangan yang keras akan berakibat robohnya tubuh kehidupan kita, sebaliknya hanyut dan lari dari masalah akan menghilangkan eksistensi diri. Maka bersikap lentur, menyesuaikan dengan keadaan adalah pelajaran berharga dari bambu untuk terus bisa eksis dan bermanfaat. Saat orang lain bertumbangan dalam menghadapi masalah, maka manusia berkarakter bambu akan tetap eksis, menampilkan lambaian indah dan terus memberi manfaat.
Hanya manusia yang tetap eksis jati dirinya dan kokoh pendiriannya yang bisa memberi banyak manfaat bagi lingkungan. Bila kita ingin mampu memberi manfaat sebanyak mungkin bagi lingkungan kita, maka keberanian berekspresi secara maksimal, fleksibilitas menghadapi tantangan dan tak peduli dengan masa lalu, yang merupakan karakter bambu bisa kita contoh. Tak peduli sekencang apapun angin menerpa, bila kita telah berhasil meneladani kelemah-gemulaian bambu dalam hidup kita, maka apapun masalah yang menghadang akan mampu kita hadapi dengan kelembutan yang kokoh. Seperti bambu.
Bambu menyimpan banyak inspirasi bagi manusia. Latar belakang bambu yang berasal dari keluarga rumput yang dikesankan sebagai tumbuhan lemah dan diremehkan tidaklah menghalanginya berekspresi. Bambu mampu mengekspesikan diri menjadi sosok yang kokoh namun lentur dan kaya manfaat. Dengan kemampuan ekspresi yang kuat dan unik maka kita akan berhasil menjadi yang terbaik, minimal di komunitas kita.
Fleksibilitas atau kelenturan bambu mengajari manusia bagaimana mampu beradaptasi pada lingkungan yang ekstrim sekaligus. Saat arus masalah datang, kita perlu bersikap lentur, tidak menentang atau hanyut atau bahkan lari darinya. Penentangan yang keras akan berakibat robohnya tubuh kehidupan kita, sebaliknya hanyut dan lari dari masalah akan menghilangkan eksistensi diri. Maka bersikap lentur, menyesuaikan dengan keadaan adalah pelajaran berharga dari bambu untuk terus bisa eksis dan bermanfaat. Saat orang lain bertumbangan dalam menghadapi masalah, maka manusia berkarakter bambu akan tetap eksis, menampilkan lambaian indah dan terus memberi manfaat.
Hanya manusia yang tetap eksis jati dirinya dan kokoh pendiriannya yang bisa memberi banyak manfaat bagi lingkungan. Bila kita ingin mampu memberi manfaat sebanyak mungkin bagi lingkungan kita, maka keberanian berekspresi secara maksimal, fleksibilitas menghadapi tantangan dan tak peduli dengan masa lalu, yang merupakan karakter bambu bisa kita contoh. Tak peduli sekencang apapun angin menerpa, bila kita telah berhasil meneladani kelemah-gemulaian bambu dalam hidup kita, maka apapun masalah yang menghadang akan mampu kita hadapi dengan kelembutan yang kokoh. Seperti bambu.
RUBRIK:
artikel
Air putih yang memabukkan
Di sebuah tugas kelas kimia, seorang pelajar diperintahkan untuk melakukan percobaan untuk menemukan jenis minuman baru yang paling memabukkan.
Seorang pelajar lalu mengadakan percobaan tentang apakah air putih bisa memabukkan atau tidak.
Pada percobaan pertama ia melakukan percobaan dengan mencampur segelas air putih dengan segelas wiski. Hasilnya ia mabuk.
Lalu keesokannya ia mencampur segelas air putih dan segelas vodka, hasilnya ia juga mabuk.
Kemudian di hari ketiga ia mencoba lagi segelas air putih dicampur Tequila dan ia kembali mabuk.
Hari keempat mencoba segelas air putih dicampur dengan Martini ia kembali mabuk.
Hari kelima ia mencampur air dengan bir, hari keenam ia nekat mencoba dengan alkohol, dan hasilnya sama ia mabuk.
Akhirnya pemuda ini membuat kesimpulan bahwa;
"AIR PUTIH MEMABUKKAN KARENA SUDAH DICAMPUR DENGAN BERBAGAI MINUMAN YANG BERBEDA, TETAP MEMABUKKAN!"
Bagaimana menurut Anda?
Ini adalah contoh orang yang salah menyimpulkan karena salah mengambil contoh atau sample.
Kejadian ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita.
Saya teringat dulu sekali, ada kasus tabloid monitor (pelopor tabloid infotainment) yang melakukan riset tentang tokoh idola di Indonesaia.
Hasilnya Soeharto No 1, dan Nabi Muhammad kalau gak salah no 17, dan no.16 nya Arswendo Atmowiloto yang merupakan pemred tabloid tersebut.
Hasil survey tersebut dianggap menghina umat Islam apalagi Nabi Muhammad diletakkan di bawah sang pemred, dan akhirnya Arswendo sempat di penjara.
Mungkin hasil riset yang diumumkan tidak salah, tapi cara merisetnya yang salah. Kalau wawancaranya di mesjid mungkin sebagian besar pilih Nabi Muhammad, tapi kalau wawancaranya di rapat redaksi mungkin pilih Arswendo kalau risetnya di pegawai negeri mungkin jadi Soeharto.
Salah sangka seperti ini juga banyak terjadi pada kaum muslimin.
Karena ada banyak berita teroris berembel embel Islam, maka segala hal baik yang terjadi di kalangan muslim jadi hilang.
Banyak orang jadi salah sangka terhadap Islam dan Muslimin karena kebetulan contoh atau sample yang dilihat selalu yang negatif.
Buat muslimin yang lurus, tentu saja tugasnya adalah berbuat sebanyak-banyaknya hal besar yang membuat citra positif , sehingga semakin terbentuk image baik.
Nampaknya kita butuh lebih banyak orang seperti Muhammad Yunus yang mendapat Nobel dari Gramen Bank yang banyak membantu kaum miskin.
Sebagai bangsa kita juga mempunyai image yang buruk.
Sebagian besar pekerja Indonesia di LN adalah pegawai rendahan.
Lebih buruk lagi jika mereka diperlakukan sewenang-wenang pembelaan dari pemerintah sangat lemah.
Membuat image kita semakin buruk.
Jika banyak di antara kita punya komitmen untuk memperbaiki citra diri, insya Allah citra bangsa juga akan terangkat, citra ummat juga terangkat.
Semakin banyak citra baik yang kita ciptakan, semakin tertutup sample-sample negatif sehingga akhirnya memberi keberkahan buat semua.
Bagaimana menurut Anda?
Seorang pelajar lalu mengadakan percobaan tentang apakah air putih bisa memabukkan atau tidak.
Pada percobaan pertama ia melakukan percobaan dengan mencampur segelas air putih dengan segelas wiski. Hasilnya ia mabuk.
Lalu keesokannya ia mencampur segelas air putih dan segelas vodka, hasilnya ia juga mabuk.
Kemudian di hari ketiga ia mencoba lagi segelas air putih dicampur Tequila dan ia kembali mabuk.
Hari keempat mencoba segelas air putih dicampur dengan Martini ia kembali mabuk.
Hari kelima ia mencampur air dengan bir, hari keenam ia nekat mencoba dengan alkohol, dan hasilnya sama ia mabuk.
Akhirnya pemuda ini membuat kesimpulan bahwa;
"AIR PUTIH MEMABUKKAN KARENA SUDAH DICAMPUR DENGAN BERBAGAI MINUMAN YANG BERBEDA, TETAP MEMABUKKAN!"
Bagaimana menurut Anda?
Ini adalah contoh orang yang salah menyimpulkan karena salah mengambil contoh atau sample.
Kejadian ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita.
Saya teringat dulu sekali, ada kasus tabloid monitor (pelopor tabloid infotainment) yang melakukan riset tentang tokoh idola di Indonesaia.
Hasilnya Soeharto No 1, dan Nabi Muhammad kalau gak salah no 17, dan no.16 nya Arswendo Atmowiloto yang merupakan pemred tabloid tersebut.
Hasil survey tersebut dianggap menghina umat Islam apalagi Nabi Muhammad diletakkan di bawah sang pemred, dan akhirnya Arswendo sempat di penjara.
Mungkin hasil riset yang diumumkan tidak salah, tapi cara merisetnya yang salah. Kalau wawancaranya di mesjid mungkin sebagian besar pilih Nabi Muhammad, tapi kalau wawancaranya di rapat redaksi mungkin pilih Arswendo kalau risetnya di pegawai negeri mungkin jadi Soeharto.
Salah sangka seperti ini juga banyak terjadi pada kaum muslimin.
Karena ada banyak berita teroris berembel embel Islam, maka segala hal baik yang terjadi di kalangan muslim jadi hilang.
Banyak orang jadi salah sangka terhadap Islam dan Muslimin karena kebetulan contoh atau sample yang dilihat selalu yang negatif.
Buat muslimin yang lurus, tentu saja tugasnya adalah berbuat sebanyak-banyaknya hal besar yang membuat citra positif , sehingga semakin terbentuk image baik.
Nampaknya kita butuh lebih banyak orang seperti Muhammad Yunus yang mendapat Nobel dari Gramen Bank yang banyak membantu kaum miskin.
Sebagai bangsa kita juga mempunyai image yang buruk.
Sebagian besar pekerja Indonesia di LN adalah pegawai rendahan.
Lebih buruk lagi jika mereka diperlakukan sewenang-wenang pembelaan dari pemerintah sangat lemah.
Membuat image kita semakin buruk.
Jika banyak di antara kita punya komitmen untuk memperbaiki citra diri, insya Allah citra bangsa juga akan terangkat, citra ummat juga terangkat.
Semakin banyak citra baik yang kita ciptakan, semakin tertutup sample-sample negatif sehingga akhirnya memberi keberkahan buat semua.
Bagaimana menurut Anda?
RUBRIK:
artikel
Senin, 07 Februari 2011
tanpa judul
Oleh: Empell Odieng
hdup bkn ntuk skdr komentar
hdup bkn ntuk skdr brkoar
tp hdup jg gag ckp mghirup
hdup dalah dmn qt menyadari kwjban
adlh dmn qt menyempat bkn mengumpat
krn hdup adlh tuntutan pgwsa laut
krn hdup adlh pmbrian bkn prmint'an
krn hdup adllh ksmptn yg tak trgantikan
bknlah hdup yg trsiakn ats ktrgntungan
pd yg laen yg tak trnama dlm nurani
pd yg laen yg tak trlukis djntung ht
pd yg laen yg sllu mnuntut tnp mau mmberi
sdrkah smw itu tlh mghmbat lgkh para pmuja
tlh mmbuat tak brdaya
dikaki,tangan,mata,n tellinga
di mulut yg snantiasa hancurkan asa
"judul hdup kian jadul"
hdup bkn ntuk skdr komentar
hdup bkn ntuk skdr brkoar
tp hdup jg gag ckp mghirup
hdup dalah dmn qt menyadari kwjban
adlh dmn qt menyempat bkn mengumpat
krn hdup adlh tuntutan pgwsa laut
krn hdup adlh pmbrian bkn prmint'an
krn hdup adllh ksmptn yg tak trgantikan
bknlah hdup yg trsiakn ats ktrgntungan
pd yg laen yg tak trnama dlm nurani
pd yg laen yg tak trlukis djntung ht
pd yg laen yg sllu mnuntut tnp mau mmberi
sdrkah smw itu tlh mghmbat lgkh para pmuja
tlh mmbuat tak brdaya
dikaki,tangan,mata,n tellinga
di mulut yg snantiasa hancurkan asa
"judul hdup kian jadul"
RUBRIK:
artikel
Kamis, 16 Desember 2010
Ulil Abshar dan Liberalisme
Oleh: Ahmad Musta`inUlil abshor abdalla adl seorg pmuda "NU" yg brasal dari lingkungan org santri.
Istrinya pun dari kalangan santri.
YaitU puTri budayawan muslim kh.Mustofa bisri (Rembang_jateng).
ShingGa kredibilitasnya sbg seorg santri tdk prlu di prtanyakn org.
Mgkin juga pola hdupnya msih brSifat santri.
Tpi
RUBRIK:
artikel
Rabu, 15 Desember 2010
Dosa dan Hikmah Salib
Oleh: Aly Ya`lu wya."Berbicara tentang dosa, terkadang-tanpa disadari atau tidak-kita kambing hitamkan setan."
Setan itu sebenarnya mempunyai kemampuan yang sangat minim; sekedar mengganggu, menggoda, atau mengiming-iming, jadi sifatnya sangat temporal. Berbeda dengan hawa nafsu kita yang serakah, rakus, yang tidak mengenal batas akhir dan tidak mengenal batas kepuasan. Kalau godaan setan bersifat temporal, godaan hawa nafsu di mana-mana selalu ada.
RUBRIK:
artikel
Sabtu, 04 Desember 2010
Wisata Kultural dan Spiritual
Oleh: Fakhrur rozie 20/04/2010
Dunia pariwista modern selma ini berangkat dari filosofi tentang, kreasi dan rekreasi yang lahir dari anggapan budaya manusia teknologi-industrial.
Manusia membagi hari-harinya kedalam fungsi kreatif dan produktif.
Fungsi kreatif memusatkn pada mekanisme intlektual pmikira,renungan,kesenian (software peradban) dan juga dunia politik.
Fungsi produktif berpusat pada ekonomisasi dan ekonomisme: produk-produk, konsumsi dan pasar. keduanya sangat menyerap pikiran,batin, fisik manusia yang hanya sebagai fungsi produktif. melahrkan proses dehumanisasi yang sangat mengringkan makna hidup mreka.
oleh karna itu naluri mereka menuntut akalnya agar melahirkan fenomena budaya yang memungkinkan adanya 'Rehumanisasi' atau arus balik.
Dunia pariwista modern selma ini berangkat dari filosofi tentang, kreasi dan rekreasi yang lahir dari anggapan budaya manusia teknologi-industrial.
Manusia membagi hari-harinya kedalam fungsi kreatif dan produktif.
Fungsi kreatif memusatkn pada mekanisme intlektual pmikira,renungan,kesenian (software peradban) dan juga dunia politik.
Fungsi produktif berpusat pada ekonomisasi dan ekonomisme: produk-produk, konsumsi dan pasar. keduanya sangat menyerap pikiran,batin, fisik manusia yang hanya sebagai fungsi produktif. melahrkan proses dehumanisasi yang sangat mengringkan makna hidup mreka.
oleh karna itu naluri mereka menuntut akalnya agar melahirkan fenomena budaya yang memungkinkan adanya 'Rehumanisasi' atau arus balik.
RUBRIK:
artikel
Langganan:
Postingan (Atom)