Mading AFIIQ Meriah Dan Terarah

Kamis, 24 Februari 2011

Air putih yang memabukkan

Di sebuah tugas kelas kimia, seorang pelajar diperintahkan untuk melakukan percobaan untuk menemukan jenis minuman baru yang paling memabukkan.
Seorang pelajar lalu mengadakan percobaan tentang apakah air putih bisa memabukkan atau tidak.

Pada percobaan pertama ia melakukan percobaan dengan mencampur segelas air putih dengan segelas wiski. Hasilnya ia mabuk.
Lalu keesokannya ia mencampur segelas air putih dan segelas vodka, hasilnya ia juga mabuk.
Kemudian di hari ketiga ia mencoba lagi segelas air putih dicampur Tequila dan ia kembali mabuk.
Hari keempat mencoba segelas air putih dicampur dengan Martini ia kembali mabuk.
Hari kelima ia mencampur air dengan bir, hari keenam ia nekat mencoba dengan alkohol, dan hasilnya sama ia mabuk.
Akhirnya pemuda ini membuat kesimpulan bahwa;
"AIR PUTIH MEMABUKKAN KARENA SUDAH DICAMPUR DENGAN BERBAGAI MINUMAN YANG BERBEDA, TETAP MEMABUKKAN!"
Bagaimana menurut Anda?

Ini adalah contoh orang yang salah menyimpulkan karena salah mengambil contoh atau sample.
Kejadian ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita.
Saya teringat dulu sekali, ada kasus tabloid monitor (pelopor tabloid infotainment) yang melakukan riset tentang tokoh idola di Indonesaia.
Hasilnya Soeharto No 1, dan Nabi Muhammad kalau gak salah no 17, dan no.16 nya Arswendo Atmowiloto yang merupakan pemred tabloid tersebut.
Hasil survey tersebut dianggap menghina umat Islam apalagi Nabi Muhammad diletakkan di bawah sang pemred, dan akhirnya Arswendo sempat di penjara.
Mungkin hasil riset yang diumumkan tidak salah, tapi cara merisetnya yang salah. Kalau wawancaranya di mesjid mungkin sebagian besar pilih Nabi Muhammad, tapi kalau wawancaranya di rapat redaksi mungkin pilih Arswendo kalau risetnya di pegawai negeri mungkin jadi Soeharto.
Salah sangka seperti ini juga banyak terjadi pada kaum muslimin.
Karena ada banyak berita teroris berembel embel Islam, maka segala hal baik yang terjadi di kalangan muslim jadi hilang.
Banyak orang jadi salah sangka terhadap Islam dan Muslimin karena kebetulan contoh atau sample yang dilihat selalu yang negatif.

Buat muslimin yang lurus, tentu saja tugasnya adalah berbuat sebanyak-banyaknya hal besar yang membuat citra positif , sehingga semakin terbentuk image baik.
Nampaknya kita butuh lebih banyak orang seperti Muhammad Yunus yang mendapat Nobel dari Gramen Bank yang banyak membantu kaum miskin.

Sebagai bangsa kita juga mempunyai image yang buruk.
Sebagian besar pekerja Indonesia di LN adalah pegawai rendahan.
Lebih buruk lagi jika mereka diperlakukan sewenang-wenang pembelaan dari pemerintah sangat lemah.
Membuat image kita semakin buruk.

Jika banyak di antara kita punya komitmen untuk memperbaiki citra diri, insya Allah citra bangsa juga akan terangkat, citra ummat juga terangkat.
Semakin banyak citra baik yang kita ciptakan, semakin tertutup sample-sample negatif sehingga akhirnya memberi keberkahan buat semua.
Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2012/03/cara-memasang-custom-google-translate.html#ixzz2ErfvM2Di