mading afiiq al-mahrusiyah edisi januari 2010
ISTANA yang selama berpuluh tahun dianggap angker dan sakral olah khalayak lindap begitu Gus Dur datang.Gus Dur berharap istana mudah dimasuki rakyat.
KH Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur adalah sosok fenomenal dan kontroversial. Disebut fenomenal karena Gus Dur dikenal sebagai tokoh pejuang demokrasi. Gus Dur sangat intens dalam membangun demokrasi keindonesiaan. Sosok yang bernama lahir Abdurrahman Ad-Dakhil itu––”Ad-Dakhil” berarti sang penakluk–– adalah tokoh besar yang pernah dimiliki Indonesia.
Gus Dur begitu gigih memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), pluralisme,dan simbol ”pelindung” kelompok minoritas. Bagi sebagian kalangan, Gus Dur dianggap kontroversi karena pemikiran dan pandangannya yang sering berseberangan dengan kelompok tertentu.
Bahkan, masyarakat awam pun terkadang sulit menerima apa yang menjadi pemikiran tokoh yang pernah mengaku keturunan Tionghoa ini––dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.
Karena itu, menjadi wajar jika sebagian kalangan kala melihat Gus Dur sontak mengiyakan kisah dalam novel Robert Louis Stevenson yang bercerita tentang dua persona di satu raga manusia, Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde. Namun, secara sadar atau tidak, banyak kalangan yang berpandangan demikian juga memberikan pemakluman atas kontroversi dirinya.
Dapat dimafhumi jika sebagian kalangan tadi punya senarai panjang keberatan terhadap Gus Dur. Namun, lebih banyak pula kalangan yang justru memiliki daftar panjang jasa sang guru bangsa ini, khususnya dalam kehidupan demokrasi di Tanah Air. Gus Dur mungkin juga sadar betul bahwa demokrasi yang didengungkan pasca-Reformasi baru menyentuh format politik, belum pada kultur politik.
Karena itu,dia begitu gigih mengajari bangsa ini cara berdemokrasi dan bertoleransi yang benar. Untuk urusan toleransi,masyarakat perlu mencermati artikel Gus Dur di sebuah majalah mingguan pada dekade 1980-an yang berjudul Menunggu Setan Lewat. Isinya menghentak kesadaran akan disiplin dan tata tertib.Gus Dur mendapat inspirasi untuk menulis artikel itu saat berada di luar negeri ketikatemannya yangmenyopiridia berhenti di sebuah lampu merah pada malam hari.
Padahal jalanan lengang. Gus Dur pun bertanya kepada rekannya itu. ”Buat apa berhenti? Menunggu setan lewat?”Temannya dengan lugas menjawab. ”Ya. karena dia (setan) juga punya hak atas lampu merah ini.” Salah satu hal fenomenal yang diajarkan Gus Dur kepada bangsa ini adalah bagaimana dia mampu mendesakralisasi istana. Dalam kelugasan dan cara pandang Gus Dur, istana kepresidenan dikembalikan ke posisi yang tepat sebagai rumah rakyat.
Sejak era kepemimpinan Gus Dur-lah demonstrasi bisa dilakukan di depan istana,suatu hal yang tak mungkin dilakukan pada era pendahulunya. Gus Dur adalah pelanggar hal yang selama ini dianggap tabu. Istana yang selama ini ”ditakuti” masyarakat diubah oleh Gus Duir menjadi layaknya pesantren tidak resmi. Di masa kepemimpinannya (1999–2001), dari subuh sampai malam istana ramai dikunjungi para koleganya yang berkain sarung dan bersandal jepit.
Bahkan, ketika Gus Dur ”dipaksa” untuk meninggalkan istana, dia pun dengan santai mengenakan baju tidur dan tanpa alas kaki melambaikan tangan kepada pendukungnya. Inilah cara paling manusiawi meninggalkan kekuasaan. Tak terlihat rasa kehilangan akan kekuasaan. Ditemani istri, anaknya, kaum kerabatnya,Gus Dur meninggalkan istana dengan kepala tegak dan dada busung.
Gus Dur lewat cara pandangnya mengajari bangsa ini bahwa tidak ada yang diperlukan untuk menyakralkan istana kepresidenan. Sebab, penyakralan istana kepresidenan boleh jadi setara dengan memerkosa dan mengabaikan apa yang menjadi hak rakyat Indonesia. Gaya Gus Dur bercelana pendek ketika akan meninggalkan istana juga memberikan pelajaran lain,yakni bagaimana seorang Gus Dur yang menjadi representasi rakyat kebanyakan sudah berhasil menginjakkan kaki dengan cara rakyat di istana yang selama ini disakralkan.
Meski tingkatan berbagai rakyat Indonesia itu bisa berlapis- lapis, Gus Dur mewakili cita rasa rakyat kebanyakan. Sepak terjang Gus Dur mendobrak sakralisme istana ini pun ditulis A Muhaimin Iskandar dalam bukunya, Gus Dur yang Saya Kenal: Sebuah Catatan tentang Transisi Demokrasi Kita. Sehari setelah Gus Dur masuk istana sebagai Presiden Keempat RI, publik menyaksikan sebuah pemandangan baru, bahkan radikal. Sejumlah Pengurus Besar NU berkunjung ke Wisma Negara.
Sejumlah kiai sepuh itu bisa memasuki istana meski hanya bersandal jepit khas pesantren.Pemandangan seperti ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya di masa Soeharto. Gus Dur telah memulai babak baru terhadap lembaga kepresidenan. Cara ini merupakan salah satu bentuk demokratisasi Gus Dur untuk menghumanisasi lembaga kepresidenan.
Gus Dur dianggap telah meletakkan dasar dekonstruksi pola hubungan gaya lama yang menempatkan penguasa (pemimpin) jauh dari rakyatnya. Setelah Gus Dur dipanggil Sang Khalik pada 30 Desember 2009,satu hari jelang pergantian tahun, banyak orang merasa kehilangan.Tokoh pemersatu umat telah pergi untuk selamanya.
Boleh jadi perasaan kehilangan itu karena Gus Dur telah menorehkan sebuah tarikan garis dalam kesejarahan demokrasi di Indonesia yang sulit dilupakan dan tak tergantikan.Karena itu,menjadi wajar jika di akhir hayatnya negara pun akhirnya ”harus” menyakralkanGusDurdengan” menegasikan” kearifan lokal NU ketika acara kenegaraan di rumah duka di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan. Selamat jalan sang Penakluk.
(*)dihimpun dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar