Madimg afiiq almahrusiyah(maddah) edisi juni 2010
Kita tidak dapat membayangkan bagaimana penderitaan, kesusahan dan jerih payah yang telah dialami Rasulullah saw. Ketika menyebarkan agama. Untuk mencapai tarif seperti usaha dan semangat mereka, kita yang bodoh ini sudah pasti akan mendapat kesulitan. Kisah kehidupan mereka telah banyak ditulis dalam kitab-kitab sejarah, namun sangat jauh untuk diamalkan dalam kehidupan kita. Bahkan sekedar mengetahuinya saja kita tidak mau berusaha.
Di dalam bab ini, akan diceritakan beberapa kisah mereka sebagai suri teladan bagi kita. Dari kisah-kisah tersebut akan kami awali dengan kisah Rasulullah saw. semoga dengan mengisahkannya akan menjadi sebab keberkahan.
DAKWAH RASULULLAH SAW. KE THOIF
Setelah sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, Beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk mengganggu dan menghalangi Beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Tholib, paman Beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk islam sampai akhir hayatnya.
Pada tahun kesepuluh setelah kenabian Abu Tholib wafat. Dengan wafatnya Abu Tholib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa mengganggu dan menentang Nabi saw.
Thoif merupakan kota terbesar kedua di kawasan Hijaz. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah saw. Pun berangkat ke Thoif dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima islam, dengan demikian Beliau akan mendapatkan tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk islam dari gangguan-gangguan kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Thoif sebagai pusat kegiatan dakwah. Setibanya di sana, Rasulullah saw. Mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi saw. Pun mereka tidak mau.. Rasulullah saw. Diperlakukan secara kasar dan biadab. Sikap kasar mereka itu sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang Rasulullah saw. Dan pengikutnya tinggal di kota mereka. Semula Rasulullah saw. membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata Beliau diejek dengan kata-kata kasar.
Salah seorang di antara mereka berkata sambil mengejek,”Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi pesuruh-Nya?”. yang lain berkata sambil tertawa,” Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain Kamu untuk menjadi pesuruh-Nya?”
Ada juga yang berkata,”Jika Engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika Kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu.”
Menghadapi perlakuan ketiga tokoh Bani Tsaqif yang demikian kasar itu, Rasulullah saw. Yang memiliki sifat bersungguh-sunguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkannya mudah putus asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak bisa diharapkan itu, Rasulullah mencoba mendatangi rakyat biasa, kali ini pun Beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir Rasulullah dari Thoif dengan berkata,”Keluarlah Kamu dari kampung ini! Dan pergilah kemana saja Kamu suka!”.
Ketika Rasulullah menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, Beliau memutuskan untuk meninggalkan Thoif. Tetapi penduduk Thoif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemaparan batu yang mengenai Nabi saw. Demikian hebat, sehingga tubuh Beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah menjumpai suatu tempatyang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudian Beliau berdo’a:
االلهم اليك اشكو ضعف قوتي وقيلة حيلتي وهواني على الناس يا ارحم الراحمين انت رب المستضعفين و انت ربي الى من تكينني الى بعيد يتجهمني ام الى عدو ملكته امري ان لم يكن بك علي غضب فلا ابالي ولكن عافيتك هي اوسع لي, اعوذ بنور وجهك الذي اشرقت له الظلمات وصلح عليه امر الد نيا والاخرة من ان تنزل بي غضبك او يحل علي سخطك لك العتبى حتى ترضى ولا حول ولا قوة الا بك.
“Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya uapayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rohim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku?kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridlo. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”
Demikian sedihnya do’a yang dipanjatkan kepada Allah oleh Nabi saw. Sehingga Allah mengutus Jibril a.s. untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril a.s. memberi salam seraya berkata,’Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunumg-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah saw.
Kata malaikat itu,”Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah Tuan. Jika Engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang Engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah saw. Dengan sifat kasih sayangnya berkata,”Walaupun mereka menolak ajaran islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Hikmah dari kisah di atas:
Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi saw. Kita semua mengaku sebagai pengikutnya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari jika keinginan kita di tolak atau tidak disetujui, dengan cepat kita merasa tersinggung dan memaki-maki, bahkan kadang-kadang mempunyai keinginan untuk membalas dendam. Padahal sebagai pengikutnya kita hendaknya mencontoh Beliau. Setelah menerima penghinaan dari penduduk thoif, Beliau hanya berdo’a dan tidak memarahi mereka, tidak mengutuk mereka, dan tidak mengambil tindakan balas dendam walaupun diberi kesempatan untuk itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar